Akar Masalah Konflik di Dunia

Dunia saat ini sedang mengalami kelaparan rohani (spiritual hunger). Banyak orang kecewa dan putus asa melihat kenyataan hidup: konflik, pertikaian, dan peperangan terjadi di mana-mana, antar-keluarga, antar-suku, antar-agama, antar-bangsa, dan seterusnya. Satu fakta yang ironis adalah bahwa agama, yang seharusnya membawa kedamaian dan kebaikan, justru dijadikan ‘alat’ permusuhan dan perpecahan. Jika benar bahwa agama adalah rahmat Allah yang penuh kasih, mengapa ia justru melahirkan kebencian yang begitu hebat, sampai-sampai penganutnya rela mati demi memperjuangkan ‘kemurnian’ agama-nya, sekaligus dengan melenyapkan nyawa ribuan orang lain yang dianggap telah ‘mencemarkan’ agama-nya?

Ini adalah salah satu pertanyaan besar dalam sejarah yang belum terselesaikan selama ribuan tahun dan menyangkut nasib manusia di dunia dan akhirat. Bagi saya, yang sebenarnya masih terlalu ‘hijau’ untuk memiliki pandangan terhadap pertanyaan tersebut, segala bentuk pelanggaran terhadap hak hidup manusia yang mengatasnamakan agama sebenarnya merupakan bukti sah bahwa agama bukanlah jalan keselamatan. Faktanya tak terbantahkan: orang-orang yang mengaku beragamalah (a = tidak, gama = kacau) yang justru menjadi dalang utama penyebab kekacauan besar yang terjadi dalam peradaban manusia. Akhirnya, banyak orang menjadi muak dan apatis terhadap kaum religius. Mereka benci kemunafikan dan sikap “sok rohani” para pemimpin agama. Kelaparan mereka akan kebenaran tak terpuaskan dan pertanyaan-pertanyaan dalam hati mereka tak menemukan jawaban. Tak heran, akhirnya tak sedikit yang memutuskan untuk menjadi atheis.

Tanpa bermaksud menyederhanakan persoalan, menurut keyakinan kami, akar dari segala kejahatan para kaum religius ini adalah iri hati dan kepentingan diri sendiri. Mari membahasnya lebih rinci. Yang pertama, iri hati. Iri hati terhadap siapa? Jawabannya: terhadap kebenaran yang sejati. Sikap iri hati ini bukanlah ‘barang baru’ dalam masyarakat kita. Ia sudah diwariskan turun-temurun sejak malaikat menaruh rasa iri hati kepada manusia ciptaan Tuhan yang diberi rahmat dan kemuliaan yang hampir setara dengan Sang Pencipta. Malaikat tersebut menyombongkan dirinya, ingin duduk di tahta Allah dan ingin setara dengan Kebenaran yang sejati, sampai akhirnya ia diusir dari hadiratNya dan kita kenal sebagai iblis (the fallen angels) sekarang ini. Yang kedua, kepentingan diri sendiri atau egois (selfish ambition). Sikap ini masih sangat berhubungan dengan iri hati. Kepentingan diri sendiri-lah yang membuat seseorang tidak pernah puas dan menjadi haus kekuasaan. Yang terpenting adalah kejayaan diri sendiri, tak peduli walau jika harus dengan mengorbankan dan menginjak-injak martabat orang lain. Lagi-lagi, sikap egois ini sangat identik dengan iblis, yang begitu bernafsu menyamai Allah Sang Pencipta.

Sikap iri hati dan egois ini sebenarnya telah sejak lama dinubuatkan dalam Kitab Suci ketika Yakobus berkata:

Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. (Yakobus 3:16)

Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. (Yakobus 4:1-2)

Selain itu, Paulus, seorang rasul yang dulunya adalah salah satu dari para kaum religius Yahudi yang telah menyiksa umat Tuhan, namun justru telah menjadi saksi Kebenaran setelah Allah menampakkan diri kepadanya, berkata dengan sangat jelas:

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1 Timotius 6:10).

Uang adalah simbol kekuasaan di zaman ini. Manusia mencintai uang karena mereka haus kekuasaan. Dalam kekuasaan itu, mereka berada di posisi yang tinggi untuk memerintah dan mengendalikan orang lain. Tanpa disadari, mereka sedang ingin menjadi ‘Tuhan’ bagi sesamanya sendiri. Dengan mencintai uang, mereka sesungguhnya sedang ingin menyamai Allah. Yesus dengan sangat tegas menolak roh cinta uang:

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Lukas 16:13).

Lalu, bagaimana memutuskan rantai kutuk yang telah terlanjur menjerat kehidupan manusia ini? Manusia membutuhkan sosok penyelamat, suatu kekuatan supranatural yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri. Let everyone shouts “Save me from myself!”. Jawabannya bukanlah agama, melainkan Pribadi. Dia telah datang ke dunia tanpa membawa ’embel-embel’ atau atribut agama tertentu. Dia datang untuk membawa pemulihan bagi hubungan manusia dengan Tuhan yang telah rusak. Dialah Sang Juru Selamat umat manusia. Simak selengkapnya di 7 Reasons to Believe in Jesus, Menemukan Jalan Kebenaran dari Kisah Pelacur, dan Benarkah Yesus adalah Tuhan?

Referensi:

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

About Philip Wijaya

A lifelong-learner and a story-writer who dreams to be a history-maker.