Kualitas Pemimpin Sejati

Pesta demokrasi di Indonesia sudah di depan mata. Seluruh rakyat bersiap-siap menyongsong era pemerintahan yang baru di tanah air tercinta. Harapan baru akan masa depan bangsa yang lebih cerah telah berkumandang, tidak hanya di antara masyarakat di seluruh penjuru negeri, tetapi juga masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri. Siapakah dia yang akhirnya dipercaya menjadi pemimpin bangsa yang besar dan majemuk ini?

Sebagai warga negara Indonesia yang bangga dengan garuda di dada dan Sang Saka Merah Putih, serta percaya adanya kemerdekaan bagi setiap penduduk untuk mengemukakan pendapat yang dijamin oleh hukum dan undang-undang yang berlaku, maka melalui tulisan ini izinkan saya berbagi pandangan tentang kualitas pemimpin sejati yang didambakan oleh umat.

Image source: wilwatiktamuseum.blogspot.com

Sumber: wilwatiktamuseum.blogspot.com

Setiap orang memiliki kriteria masing-masing tentang kualitas pemimpin ideal-nya. Banyak sekali contoh pemimpin besar yang telah lahir di dunia ini, mulai dari bidang politik, agama, pendidikan, sampai olahraga, sehingga mustahil bagi saya untuk menyebutkan mereka semuanya. Walau begitu, saya akan menyebutkan sepuluh saja yang saya tahu dan cukup populer di telinga saya, sesuai urutan abjad (agar adil dan tidak dianggap memihak), mulai dari Adolf Hitler, Alex Ferguson, Barack Obama, Buddha Gautama, Jose Mourinho, Ki Hajar Dewantara, Mahatma Gandhi, Muhammad SAW, Sukarno, hingga Yesus Kristus. Saya yakin teman-teman pasti juga punya list sendiri siapa sepuluh pemimpin besar terfavorit.

Sepuluh pemimpin yang saya sebutkan di atas jelas memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Tidak semua gaya mereka saya ketahui dengan baik. Oleh sebab itu, tidaklah bijak mengomentari seorang pemimpin yang saya sendiri tidak paham benar gaya kepemimpinan-nya. Meski demikian, saya tetap ingin melanjutkan tulisan ini dengan berpendapat atau berkomentar tentang seorang pemimpin yang saya cukup kenal. Dialah Yesus (a.k.a Isa Al-Masih).

Saya percaya satu hal yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah hati yang melayani. Dalam dunia leadership, orang-orang mengenalnya dengan sebutan servant leader atau pemimpin pembantu. Berkaitan dengan hal ini, mari kita simak perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya mengenai kualitas seorang pemimpin:

“Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya; sama seperti Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Semasa hidupnya, Yesus tidak hanya punya teori yang bagus tentang kepemimpinan, tetapi Ia mempraktekkan sendiri apa yang dikatakan-Nya. Dalam pemahaman saya, ada tiga hal yang membuktikan kualitas kepemimpinan Yesus sebagai seorang pemimpin pelayan:

1. Yesus dekat dengan dan dicintai oleh rakyat-Nya.

Bertumbuh dalam keluarga yang sederhana dan dikenal sebagai anak tukang kayu, Yesus tidak membeda-bedakan orang dalam bergaul. Ia bergaul dengan siapa saja, mulai dari sosok terpandang seperti kaum bangsawan, dokter, dan tokoh-tokoh agama, kaum marjinal seperti nelayan dan tukang kayu, hingga sampah masyarakat, yaitu orang-orang yang dipandang hina dalam pergaulan saat itu, seperti pemungut cukai (debt collector) dan perempuan tunasusila alias pekerja seks komersial (PSK). Tidak heran, Ia begitu dicintai dan dipuja-puja bak seorang idola meski tetap ada juga orang-orang yang iri hati pada-Nya dan waspada terhadap ajaran atau gaya kepemimpinan-Nya. Yang menarik, ternyata rahasia keberhasilan Yesus dalam membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya terletak pada kebiasaannya yang unik, sesuai yang telah disaksikan oleh murid-murid-Nya:

Yesus berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai iblis, sebab Allah menyertai Dia.

Ternyata Yesus gemar melakukan blusukan! Bukan demi pencitraan tentunya, karena di zaman itu jangankan kamera atau handphone, koran saja masih belum ada.  Jadi tentu tidak ada kesempatan bagi para pengikut-Nya untuk update status atau upload foto-foto narsis tentang rutinitas mereka bersama Sang Idola. Saya membayangkan mungkin saat itu Beliau sering mendatangi daerah-daerah kumuh dan berpenyakit di mana tidak banyak orang yang mau menjangkaunya. Tidak heran, menurut testimoni para follower-Nya, Yesus tidak hanya berjalan berkeliling tanpa tujuan yang jelas, tetapi Ia juga berbuat banyak kebaikan dengan menyembuhkan masyarakat desa yang saat itu sedang galau dan gundah gulana karena wabah penyakit yang disebabkan oleh siapa lagi kalo bukan si iblis brengsek bin keparat.

Lalu bagaimana kita tahu bahwa Yesus sangat dicintai oleh para follower-Nya? Sederhana saja. Mereka rela mati untuk-Nya. Bahkan, bangsa Romawi yang dulu menyalibkan Yesus kini menjadi Vatikan, satu-satunya negara dengan kekuasaan monarki absolut di Eropa, tempat di mana Yesus dipuja-puja, berkat pemberitaan Injil yang harus dibayar mahal oleh darah para martir. Di sanalah terdapat Saint Peter’s Basilica, yang diyakini sebagai situs bersejarah dengan adanya makam Petrus, salah seorang murid Yesus, yang menjadi martir, mati disalib dengan kepala terbalik. Selain Petrus, ada juga Yohanes dan Paulus yang menjadi martir dengan dipenggal kepalanya, atau Stefanus yang mati dirajam batu. Jika bukan karena cinta kepada Yesus, apakah mungkin orang-orang ini rela darahnya tertumpah karena sedang sakit jiwa dan kurang waras saat itu?

2. Yesus rela mati bagi umat yang dicintai-Nya.

Yesus bukanlah tipe pemimpin yang suka mengorbankan atau menipu anak buahnya. Salah satu alasan mengapa para follower-Nya rela mati adalah karena mereka melihat teladan nyata yang ditunjukkan oleh Sang Idola. Pemimpin sejati tidak takut mati. Ia berani ‘pasang badan’ ketika pengikutnya sedang terancam bahaya, bukannya malah lari menyelamatkan diri meninggalkan anak buahnya. Yesus sendiri telah meramalkan kematian-Nya:

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

Di zaman sekarang, makin kentalnya hedonisme membuat orang-orang takut mati karena barangkali mereka tidak ingin mati sebelum bisa merasakan segala kenikmatan duniawi. Padahal kematian adalah suatu hal yang pasti akan terjadi pada semua orang, cepat atau lambat akan dialami. Datang tak diantar, tiba tak diundang. Well, kematian seorang pemimpin tidak hanya berkaitan dengan kematian secara fisik, tetapi juga kematian atas ego pribadi. Saat seorang pemimpin memutuskan untuk tidak mencuri uang rakyat padahal ada kesempatan untuk melakukannya, ia sedang mati bagi dirinya sendiri. Saat seorang pemimpin tetap setia kepada istrinya walaupun setiap hari dikelilingi oleh banyak wanita cantik nan seksi yang senantiasa menggodanya, ia sedang mati bagi dirinya sendiri. Saat seorang pemimpin rela meninggalkan tahtanya dan tidak mempertahankan kekuasaannya bertahun-tahun, ia sedang mati bagi dirinya sendiri. Yesus telah rela meninggalkan tahta-Nya yang mulia di surga, turun ke dunia dan dihina, untuk mati bagi orang-orang yang sangat dicintai-Nya: Anda dan saya.

3. Yesus menepati janji tentang kebangkitan-Nya.

Jika ada tokoh di dunia ini yang bisa meramalkan hari kematiannya secara tepat, dialah Yesus. Yang lebih keren, tidak hanya kematian, tetapi Yesus juga telah berhasil meramalkan kebangkitan-Nya:

Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.

Dunia memperingati hari kematian Yesus yang selalu jatuh pada hari Jumat (sehingga di kalender kita bisa merayakan Good Friday atau Jumat Agung) setiap tahun. Hari kebangkitan-Nya (Passover atau Paskah) selalu jatuh pada hari Minggu, yaitu hari ketiga setelah Jumat.

Saya bisa membayangkan rasa kecewa para follower Yesus ketika mendapati Sang Idola akhirnya tak berdaya mati disalib. Mereka yang sudah terbiasa mengelu-elukan Yesus, atau mungkin membanggakan Idola-nya di kalangan sanak saudara dan kerabat, harus bersiap-siap menanggung malu dan cibiran dari para haters. Mereka juga pasti gelisah, bertanya-tanya dalam hati, dan mulai ragu akan janji-janji yang pernah diucapkan-Nya.

Untungnya Yesus adalah pemimpin sejati yang tak pernah lalai akan janjinya. Dia bangkit! Kubur kosong membuktikan Dia hidup, sekalipun banyak orang berusaha memalsukan atau mem-blur-kan cerita kemenangan-Nya atas maut. Kebangkitan Yesus menjadikan para follower-Nya kembali bergairah! Mereka rela untuk menjadi saksi dari kebangkitan Sang Idola walaupun tanpa dibayar dengan uang, malahan mereka yang harus membayar… dengan darah! Mereka melakukannya secara sukarela… ke seluruh penjuru dunia! Kemenangan Yesus atas maut telah berhasil melipatgandakan keberanian di dalam diri para follower-Nya. Mereka yang semula adalah wong cilik, tidak diperhitungkan dan acap kali dipandang hina, tiba-tiba berubah menjadi pasukan berani mati yang mengubah sejarah peradaban manusia. Pengaruh mereka begitu meluas sampai ke ujung dunia hingga sepanjang masa, dari generasi ke generasi. Mereka meyakini bahwa mati atau menderita bagi Tuan-nya adalah sebuah keuntungan dan kehormatan besar.

Pemimpin yang hebat akan menjadikan orang-orang biasa menjadi luar biasa! Semuanya dimulai dari teladan Sang Idola, Yesus Kristus.

Rangkuman:

Tiga karakter seorang pemimpin sejati yang diteladankan oleh Yesus:

  1. Dekat dengan dan dicintai oleh rakyatnya.
  2. Tidak takut mati bagi ego dan kepentingan pribadi.
  3. Berintegritas dan sanggup menepati janji-janjinya.

Pemirsa sekalian pasti juga punya kriteria pemimpin yang ideal. Soplease feel free to leave your constructive comments here about your inspirational leader. Kalo tidak ada yang komen, berarti semua telah setuju dan sepakat dengan pandangan kami ini. (^_^)V (kidding, but seriously)

Selamat memilih pemimpin baru Indonesia.

Seoul, Mei, 25, 2014


Pustaka: Markus 10:42-45, Kisah Para Rasul 10:38, Yohanes 10:11-12, Lukas 24:7

Advertisements

Di Balik Kata “Terima Kasih, Puji Tuhan”

Nowela Elizabeth Mikhelia Auparay, akhirnya resmi menjadi juara Indonesian Idol 2014. Menyimak perjalanannya dari awal babak audisi, spektakuler, hingga grand final, ada satu hal yang menarik dari Nowela. Tidak pernah ada satu pun babak yang ia lewatkan tanpa mengucapkan “Terima kasih, puji Tuhan”. Bagi saya inilah hal ‘kecil’ yang merupakan kunci besar bagi kesuksesan Nowela, karena ia menyadari bahwa sebagai penyanyi (penghibur) akan banyak sekali pujian yang ia terima yang bisa membuatnya terlena dan lupa diri. Namun ia selalu ingatkan diri sendiri bahwa segala yang telah diraihnya bukan karena kehebatan dan kemampuannya, melainkan hanya karena anugerah dari Tuhan semata. That’s why ketika Nowela dipuji, ia selalu mengembalikan pujian tersebut untuk DIA Satu-satunya yang layak terima segala pujian, kehormatan, dan kemuliaan.

Sebagai seorang pemerhati dan penikmat musik yang juga berkecimpung dalam dunia tarik suara, saya sadar benar bahwa dunia hiburan (entertainment) penuh dengan ‘tantangan batin’ bagi setiap insan yang berkiprah di dalamnya. Gemerlapnya panggung yang membuat semua mata tertuju kepada sang idola serta meriahnya sorak sorai dan tepuk tangan para penggemar yang mengelu-elukan sang jagoan, di satu sisi telah menjadi energi yang luar biasa bagi mereka untuk menyuguhkan penampilan yang terbaik. Namun, di sisi lain semua pujian dan pengagungan tersebut juga menghadirkan ‘tantangan batin’ yang berpotensi mengubah segala energi konstruktif yang telah mereka dapatkan menjadi energi destruktif yang berujung pada kesombongan yang meruntuhkan, sehingga respon sikap batin seorang entertainer dalam menerima pujian dari orang-orang yang mencintai dan mengaguminya bukan sebuah hal yang bisa dianggap remeh.

Banyak orang (termasuk saya sendiri) terkadang bingung ketika menerima pujian. Teristimewa orang-orang timur (Asia) yang sangat terkenal dengan budaya sopan dan malu-malu. Di Korea, ketika mendapatkan pujian, orang-orang kebanyakan akan menjawab: “아니에요 (anieyo) atau 아닙니다 (animnida)” yang kurang lebih artinya “Tidak… bukan karena (andil) saya”. Di Cina, dalam contoh dialog atau percakapan yang ada di buku belajar bahasa Mandarin, ketika seseorang menerima pujian atau ucapan terima kasih, ia akan menjawab: “ (xiè) atau  (méiguānxi)” yang jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris berarti “Not at all, don’t mention it, atau it doesn’t matter”. Jujur saja, siapa sih orang yang tidak senang ketika dipuji, dihargai, atau disanjung. Pujian atau ucapan terima kasih kan berarti apresiasi terhadap apa yang telah kita kerjakan. Namun terkadang kita bingung bagaimana harus menjawab ketika orang lain mengirimkan pujian atau rasa terima kasih (mungkin karena kadangkala ada apresiasi yang tidak tulus) sehingga seringkali kita lebih memilih untuk diam dan tidak membalas. Barangkali orang-orang barat lebih ‘polos’ dalam menerima pujian karena mereka kebanyakan akan menjawab: “Thanks” atau “You’re welcome” padahal pujian yang diberikan terkadang hanya basa-basi. Kasian juga yah 😛 Lalu bagaimana dengan gaya orang Indonesia? Ketika dipuji, kebanyakan mereka akan merespon “Terima kasih” dan ketika diberi ucapan terima kasih mereka akan menjawab “Sama-sama” atau “Kembali kasih”. Menurut saya ini respon yang sudah bagus dan elegan. Hanya saja jika terlalu sering diucapkan, ucapan “Terima kasih” ini bisa menjadi klise dan kehilangan makna terdalamnya. Ada orang yang sering banget bilang “Terima kasih”, dibantu sedikit saja langsung bilang “Terima kasih” sampai-sampai membuat sungkan orang yang diberi ucapan “Terima kasih” karena terkesan terlalu sopan dan tidak real sehingga terkadang membuat hubungan seolah-olah berjarak dan tidak akrab.

Saya pernah dengar bahwa di Cina, terasa agak aneh jika seorang anak kecil berkata “Terima kasih” kepada orangtua-nya. Seolah-olah mengesankan bahwa apa yang dikerjakan oleh si orangtua ‘cukup pantas’ hanya diberi ucapan “Terima kasih”, padahal sang orangtua sudah begitu berjasa melahirkan, merawat, dan membesarkan si anak, jadi “Terima kasih” terdengar sangat gampang dan murahan untuk diucapkan. Lalu bagaimana si anak harus berterimakasih pada orangtuanya? Dengan menjadi anak yang rajin, taat, dan berbakti pada orangtuanya lewat tindakan yang nyata (bukan ucapan belaka) sudah cukup untuk menunjukkan rasa terimakasih yang dalam bagi si orangtua.

So, menurut saya, respon terbaik ketika kita menerima pujian adalah seperti yang sering diucapkan oleh Nowela: “Terima kasih, puji Tuhan”. “Terima kasih” berarti bahwa kita menghargai manusia (si pemberi pujian) dan “Puji Tuhan” berarti bahwa kita tidak lupa untuk mengembalikan segala pujian kepada DIA Satu-satunya (yang memang layak untuk menerimanya) yang telah menganugerahkan berkatNya bagi kita. Namun yang paling penting dari semuanya adalah sikap hati kita yang harus tulus dan serius saat mengucapkannya. Jika tidak tulus dan serius, maka “Terima kasih” yang kita ucapkan hanya terdengar sebagai basa-basi dan “Puji Tuhan” yang kita ucapkan akan terkesan sok rohani.

Terima kasih Nowela, puji Tuhan, atas inspirasi yang telah kau berikan bagi penikmat dan pelaku musik di tanah air. Sukses selalu dan tetap rendah hati, Tuhan Yesus memberkati.

Menemukan Jalan Kebenaran dari Kisah Pelacur

Pagi itu, saat Yesus sedang mengajar di bait Allah, datanglah sekelompok pemuka agama kepada-Nya membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah. Mereka ingin tahu pendapat Yesus tentang hukuman yang pantas bagi perempuan tersebut, yang mana menurut Taurat (hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan sesamanya di zaman itu) adalah rajam batu. Dalam hati, mereka berharap agar Yesus memberikan jawaban yang blunder mengenai persoalan tersebut (karena mungkin mereka mengira Yesus adalah sosok yang lemah terhadap wanita sehingga Ia akan bersikap ‘longgar’ terhadap hukum Taurat). Namun, bukannya menjawab, Yesus malah membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika para pemuka agama terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Baca kisah selengkapnya di sini).

Kisah ini juga telah diilustrasikan dalam film The Passion of the Christ (2004) berikut ini:

Peristiwa tersebut meski terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu, namun masih relevan di zaman modern sekarang ini. Kejadian serupa berulang ketika sekelompok ‘preman berjubah’ yang mengaku berasal dari kaum religius berusaha ‘membela’ Allah-nya dan menjaga kemurnian ‘ajaran-Nya’. Mereka menyangka dengan menyerang orang-orang yang mereka anggap berbuat maksiat, mereka sedang berbakti pada Yang Maha Esa. Sungguh sebuah ironi besar ketika bakti kepada Sang Pencipta dimanifestasikan dengan cara membinasakan karya ciptaan-Nya yang paling mulia dan dikasihi-Nya. Inikah yang disebut kebenaran… atau jangan-jangan… kesesatan?

Well, sungguh miris memang, agama yang seharusnya bertujuan membawa kedamaian, namun faktanya justru menghasilkan kebencian dan penghakiman. Inilah jebakan agama: orang-orang yang ‘beragama’ seringkali merasa dirinya paling benar, paling suci, dan paling bijak sehingga mereka merasa berada di kasta yang lebih tinggi dan mulia daripada orang-orang lain yang ‘tidak beragama’. Agama yang mengajarkan kasih ternyata justru malah melenyapkan rasa belas kasihan di hati orang-orang yang berusaha mengamalkannya. Bukannya menyelesaikan masalah, agama justru menciptakan masalah-masalah baru: topeng kemunafikan dan arogansi. Inilah bukti sah bahwa agama telah gagal menghasilkan kesalehan moral dan spiritual, agama hanya ‘mempercantik’ apa yang di luar tanpa memperbaiki apa yang sebenarnya jauh lebih penting di dalam hati, dan agama tidak akan pernah membawa keselamatan! Agama adalah hasil penafsiran dan pemahaman manusia (yang terbatas) yang berusaha merumuskan tata cara yang benar mengenai hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta dan hasil ciptaan-Nya (manusia dan makhluk lain serta lingkungan hidup-nya). Wajar, banyak sekali error dalam produk buatan manusia (yang sudah lebih dulu error) ini.

Selagi agama berusaha ‘mendekorasi’ manusia lahiriah, Yesus berbicara sampai ke dalam hati, menyentuh dan mengubahkan manusia batiniah kita. Di sinilah letak perbedaan Yesus dibandingkan tokoh-tokoh agama yang lain. Ia tidak pernah mengajarkan atau menyebut merek agama tertentu. Kristen, sebutan bagi para pengikut Kristus Yesus, bukanlah hasil gagasan-Nya, melainkan sebutan atau julukan yang dialamatkan kepada murid-murid Yesus di zaman dahulu yang begitu radikal, di kota Antiokhia. Yesus datang ke dunia ini tanpa membawa atribut atau embel-embel agama untuk menuntun jalan manusia pada keselamatan, karena Ia sendiri-lah yang sesungguhnya telah menjadi jalan bagi keselamatan manusia. Hanya ada satu Allah yang benar: Allah Sang Pencipta semesta dan manusia, yang telah datang ke dunia dalam rupa manusia, mati disalibkan demi menebus dosa manusia yang dikasihi-Nya, dan telah bangkit untuk menyediakan hidup yang kekal bagi umat manusia yang percaya kepada-Nya. Jalan kepada Allah bukanlah agama atau amal perbuatan baik, melainkan Yesus.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (perkataan Yesus dikutip dari Yohanes 14:6)