Engaging Korean Culture: When “Slowly But Sure” Meets “Bballi Bballi”

Time flies so fast. It has been more than one year since I came to this Land of the Morning Calm for the first time in my life. I have never imagined before that South Korea would be the country where I could finally bring my dreams into reality: studying and living abroad, learning the new culture, and making new friends from all over the world.

I feel so lucky and blessed because I could go to Korea when this country was rising in its popularity, becoming the center of attention among all other countries in the world. Korea has influenced the world through its culture and arts, especially movies and music. Who never heard about Gangnam Style, the Korea’s most popular song in 2012? Furthermore, the rapid development in communication and information technology has also  impressed so many people in the world, through the market expansion of Samsung and Lucky Goldstar (LG)’s smart mobile technology.

Engaging Korean Culture

Several months living in Seoul, I realized that everything seems running so fast in Korea. Season changed so fast as this country has been naturally endowed with four seasons in a year that impacts on the rapid change in people’s dressing habits. They should change their appearances regularly, wearing different clothes and shoes in order to live well during four different seasons: winter-spring-summer-fall. The rapid change in technology has also affected the people’s lifestyle. They could get the latest information from the world’s fastest internet connectivity and purchase the most recent gadgets. Moreover, I also observed one more “rapid thing” in Korea during spending times together with Korean friends: they finished their eating so fast! I was always left behind when we were having lunch together in cafeteria. Not only they eat fast, but they also walk and work fast. I have finally realized that Korean people like to do everything fast, as reflected in their slogan: bballi bballi.

This “culture” has challenged me a lot! Growing in a small town at the central region of Java Island, Indonesia was the reason of big challenge I have to face now in Korea. In contrast to bballi bballi, native people of Java have one strong tradition in doing everything slowly. They like to speak-walk-eat-and-work slowly. Some people even think when they speak slowly, it will sound more polite. They would rather doing something “slowly but sure” than “quickly but careless”. Many believe that achieving goal is the most important one, regardless how they reach it: slowly or quickly. This culture difference was the reason why I should went through some tough times in the beginning of my study here. One day, one of Korean elder brother told me, “If you work slowly, people will think you are a lazy person.” What a challenge!

When my advisor moved to Canada on December, 2012, he asked me to work double-harder as he would not supervise me directly. Actually, this situation had been another challenge for me because we were going to have long distance communication since that day on. I should be more pro-active, work more independently, and effectively manage my times, not only for research work, but also for learning Korean language and culture. I cannot just wait for orders and commands from my advisor. Since there are so many things to do and to learn, I cannot work slowly if I want to pursue success in this country. One day in his lecture my advisor said to the students, “Even though your advisor does not explicitly ask you to study, you should have known that you have to study by yourselves.” After all, this bballi bballi culture has been a stepping stone for me to develop myself better and to reach the higher goals in life, eventhough everything was not easy at the first time.

This essay has been awarded in the University of Science and Technology (UST) Essay Contest 2013. Submitted on October, 31 and declared as the second winner on November, 13.

image

trazy.com

Advertisements

Kerajaan atau Keluarga?

Ada dua lembaga di dunia ini yang mencerminkan pola hubungan dalam masyarakat sehari-hari. Kedua lembaga tersebut sekaligus menjadi lembaga terbesar, yaitu kerajaan dan terkecil, yaitu keluarga. Tanpa kita sadari, setiap hari kita memainkan kedua pola tersebut ketika sedang berinteraksi dengan orang lain, baik secara individu maupun kelompok. Pola hubungan kerajaan ditandai dengan adanya peraturan dan hierarki (perbedaan tingkat/level) yang berakibat pada sikap hormat, segan, dan takut. Sementara pola hubungan keluarga ditandai dengan adanya aturan dan hierarki yang lebih sederhana sehingga memberikan perasaan intim, nyaman, dan apa adanya.

Masih ingat? Ketika kita menjadi murid di sekolah, kedua pola ini setiap hari kita mainkan. Saat berinteraksi dengan guru atau kepala sekolah, kita sedang memainkan pola kerajaan, di mana ada rasa hormat, sungkan, dan takut. Kita tidak bisa bebas menampilkan diri sendiri yang asli, seringkali harus ‘terpaksa’ bersikap sopan di hadapan mereka: mengucapkan salam, terima kasih, dan maaf jika telah melakukan kesalahan. Namun, saat berinteraksi dengan teman atau sahabat, kita sedang memainkan pola keluarga, di mana kita bisa menjadi diri sendiri apa adanya tanpa ada rasa sungkan dan takut, bahkan terkadang jika sudah sangat dekat, kita bisa sedikit ‘kurang ajar’, misalnya dengan melemparkan guyonan untuk mencairkan suasana. Faktanya, tidak hanya dengan orang yang berkedudukan lebih tinggi kita sering memainkan pola kerajaan, tetapi juga dengan orang yang baru pertamakali kita kenal. Terkadang kita merasa canggung, sungkan, dan tidak tahu bagaimana harus bersikap. Tentunya kita tidak ingin jadi sok akrab juga bukan? Namun, seiring semakin dekatnya hubungan kita dengan seseorang, kita akan mulai bersikap wajar apa adanya, sudah saling paham kebaikan dan keburukan masing-masing, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi karena kesadaran bahwa kita sudah seperti keluarga, yang saling menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain.

Pola hubungan kerajaan akan menyebabkan jarak, artinya ada pihak yang seolah-olah lebih tinggi dan yang lainnya seolah-olah lebih rendah, sedangkan pola hubungan keluarga akan meminimalkan atau bahkan menghilangkan jarak; tidak ada boss dan slave. Hanya saja, di dalam pola kerajaan ada peraturan yang tegas sehingga hukuman diberikan kepada para pelanggar aturan, sedangkan pola keluarga cenderung lebih toleran terhadap orang yang berbuat kesalahan sehingga penegakan hukum seringkali kurang nyata. Dalam kerajaan ada keadilan, namun dalam keluarga ada kehangatan kasih. Mana yang lebih kita perlukan? Keduanya sama-sama kita perlukan.

Saya bersyukur di dalam Yesus ada keadilan dan kasih. Dia tidak hanya menjadi Raja yang adil dalam hidup saya, tetapi juga menjadi Bapa yang penuh kasih. Dia tak segan menghajar anak-anakNya ketika berbuat salah, namun Dia pula yang akan membalut serta menyembuhkan luka-luka kita. Dalam Yesus, kita adalah anak Raja. Kita telah diterima menjadi anggota keluarga kerajaan-Nya. Jadi, marilah kita hidup dengan mental anak Raja yang tahu kapan harus berbuat adil dan kapan harus berbuat kasih, berani karena benar sehingga tidak takut pada hukuman (karena kita bukanlah orang-orang terhukum, yang dipenuhi ketakutan dan intimidasi) karena Yesus, Bapa dan Raja kita telah mempraktekkan kasih dan keadilanNya, dengan mati di kayu salib untuk menebus kita dari segala dosa yang mengikat dan menuduh kita.

Ilustrasi:

Alkisah dua orang belajar di sekolah yang sama dan kemudian menjadi sahabat akrab satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua akhirnya berpisah dan bertumbuh di jalan yang berbeda, yang satu akhirnya menjadi seorang hakim, sedangkan yang lainnya menjadi seorang kriminal. Suatu hari, si kriminal muncul di hadapan sang hakim setelah tertangkap akibat perbuatan jahatnya. Sang hakim menyadari wajah sahabatnya dan menghadapi sebuah dilema: sahabatnya itu telah mengakui kesalahannya namun menurut hukum/undang-undang ia harus menerima denda/hukuman, tetapi sang hakim juga mengasihi si kriminal karena dia adalah sahabatnya. Lalu sang hakim memberikan denda pada si kriminal yang besarnya sesuai dengan hukum yang berlaku: inilah KEADILAN. Kemudian, hakim tersebut turun dari singgasananya dan menuliskan sebuah cheque untuk membayar seluruh denda tersebut: inilah KASIH.

Tak Kenal, Tak Sayang

tak-kenal-tak-sayang

“Setiap orang ingin terkenal.”

Setujukah teman-teman dengan pernyataan tersebut? Mungkin ada beberapa orang yang kurang setuju karena faktanya menjadi orang terkenal tidak selalu menyenangkan, seringkali malah justru terbeban (karena harus menampilkan sikap yang baik di depan semua orang alias jaim). Baiklah, sekarang saya ganti pernyataannya:

“Setiap orang ingin dikenal dengan baik.”

Saya yakin banyak orang akan setuju kali ini. Memang benar, setiap orang cenderung ingin dikenal, baik oleh keluarganya sendiri, teman atau sahabat, maupun orang lain yang mungkin baru pertama kali kenal. Ada perbedaan yang besar antara “menjadi terkenal” dan “dikenal dengan baik”. Yang satu sifatnya hanya sementara dan dangkal (hubungan yang hanya di permukaan), sedangkan yang satunya lagi sifatnya lebih tahan lama dan dihasilkan dari hubungan yang dalam.

Sungguh menyenangkan jika orang lain mengenal kita dengan baik, mulai dari hal-hal kecil seperti: apa makanan favorit kita, hobi/kegemaran kita, sampai ke hal-hal yang lebih personal, seperti: apa saja yang membuat kita bersemangat atau menyedihkan kita, apa hasrat atau mimpi kita, bagaimana masa lalu kita, dll. Seringkali ketidaktahuan kita tentang kepribadian seseorang-lah yang menimbulkan kesalahpahaman atau konflik. Banyak orang belum mengenal seseorang dengan baik, tapi sudah terlalu cepat membuat kesimpulan/penilaian (judgement).

Jika kita mengenal seseorang dengan baik, kita akan lebih menghormatinya. Jika kita sudah menaruh respek pada seseorang, kita akan lebih mudah menyayanginya. That’s why, dalam sebuah hubungan antarmanusia, kemampuan untuk mengenal orang lain dengan baik teramat sangat penting. Tidak heran, orang-orang sukses seringkali bukanlah orang-orang ber-IQ tinggi, melainkan orang-orang yang terampil membangun komunikasi.

One secret is unlocked! Sebagai makhluk istimewa ciptaan Tuhan, rasa ingin dikenal ini bukan berasal dari diri manusia sendiri, tetapi inilah “DNA Tuhan” yang sudah ada dalam diri setiap manusia. Sang Pencipta sendiri juga ingin dikenal oleh umat ciptaan-Nya.

Sebab Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah lebih daripada korban-korban bakaran. (Hosea 6:6)