Sepuluh Lubang dalam Diri Manusia

Ada sebuah fakta menarik tentang tubuh manusia. Ternyata, dalam diri setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan, terdapat sepuluh lubang: sembilan di antaranya merupakan lubang fisik, yaitu lubang yang terdapat di dalam tubuh jasmani setiap orang. Apa saja? Mari kita hitung bersama. Di bagian paling atas, yaitu kepala, terdapat 2 lubang mata, 2 lubang telinga, 2 lubang hidung, dan 1 lubang mulut. Di bagian tengah ke bawah, terdapat 1 lubang saluran kelamin dan 1 saluran pembuangan (anus). Jadi, keseluruhan ada 9 lubang fisik yang dimiliki setiap manusia. (Sebenarnya ada satu lagi bagian yang mirip lubang, tetapi sebenarnya ia hanya rongga/cekungan, bukan lubang. Posisinya ada di tengah-tengah tubuh manusia, yaitu pusar). ūüôā

Lalu apa menariknya membahas kesembilan lubang fisik ini?

Sembilan lubang ini-lah yang akan mengingatkan kita tentang pelajaran hidup yang sangat berharga. Mari kita renungkan bersama.

Satu hal yang sangat menarik adalah fakta bahwa sembilan lubang fisik ini semuanya sama-sama berbau dan mengeluarkan kotoran, tidak peduli apakah orang tersebut kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa, tokoh masyarakat (public figure) atau orang awam. Secara alamiah, sembilan lubang yang mereka miliki ini akan selalu mengeluarkan kotoran setiap hari. Dari kotoran tersebut muncullah bau yang tidak sedap. Tidak peduli betapa keras usaha kita merawat dan menjaga, atau betapa mahal produk kecantikan yang kita beli, pasti suatu saat semuanya akan berbau juga. Bahkan setiap pagi ketika bangun tidur, kita akan mendapati sembilan lubang tadi mengeluarkan kotoran dan bau, walau intensitasnya berbeda-beda tiap orang. (Jika tidak percaya, coba buktikan sendiri dengan berkaca di depan cermin, ucapkan selamat pagi tiga kali pada diri sendiri, lalu tariklah nafas dalam-dalam, sesaat setelah Anda bangun tidur).

Memang benar, sesungguhnya tidak ada yang bisa kita banggakan sebagai manusia. Sebanyak apapun harta yang kita miliki, setampan atau secantik apapun paras wajah kita, dan setinggi apapun posisi atau jabatan kita: tetap saja kotoran dan bau yang kita hasilkan setiap hari. Untuk apa sombong dengan kesuksesan yang sudah kita raih? Untuk apa membanggakan diri jika mimpi-mimpi kita terwujud? Juga… Untuk apa iri hati dengan keberhasilan orang lain? Atau sebaliknya…¬†Untuk apa terlalu memuja-muja orang lain padahal kita sadar mereka tidak sempurna dan bisa mengecewakan?¬†Toh… semuanya sama-sama bau! (plus kotor).

Kesembilan lubang fisik inilah yang akhirnya mengingatkan kita agar selalu rendah hati sebagai manusia.

Earth Hole

Lalu apa satu lubang lagi yang ada dalam diri manusia? Setelah membicarakan sembilan lubang fisik, selanjutnya kita akan membahas satu lubang lagi yang melekat pada setiap manusia. Lubang ini bukan terdapat pada tubuh jasmani, melainkan terdapat di dalam hati dan tak terlihat oleh mata! Mengutip pernyataan Blaise Pascal, seorang ilmuwan berkebangsaan Prancis:

Ada sebuah ruang kosong (baca: lubang) ciptaan Allah di dalam diri setiap manusia, yang hanya bisa diisi oleh Yesus Kristus. (There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus.)

Manusia telah mencoba berbagai cara untuk menutupi atau mengisi kekosongan di dalam dirinya. Namun sayangnya tidak pernah ada satu hal pun yang benar-benar mampu mengisi penuh ruang kosong tersebut. Semua yang telah dicoba, mulai dari harta (mobil, rumah, perhiasan), tahta (jabatan, kekuasaan), dan wanita (percabulan, perzinahan), ternyata tidak ada satu pun yang mampu memberikan kebahagiaan sejati. Manusia selalu merasa kurang, kurang, dan kurang. Daftar keinginan dan kebutuhan tidak ada habisnya. Manusia cenderung ingin menguasai semuanya, bahkan sesamanya sendiri. Dalam situasi inilah, Yesus Kristus hadir dan memberikan jawaban yang dinanti-nantikan, karena Dia telah datang dan memberikan AIR HIDUP dan ROTI HIDUP. Di dalam DIA-lah, manusia akan menemukan kepuasan yang sejati dan kebahagiaan yang tidak akan pernah habis.

Sama seperti sembilan lubang fisik yang cenderung menghasilkan kotoran dan bau, demikian juga “lubang” di hati manusia ini cenderung menghasilkan hal-hal yang jahat. Semua pikiran, perbuatan, dan perkataan yang jahat selalu bermula atau bersumber dari hati yang sudah kotor. Lalu harus bagaimana? Ya sederhana saja: bersihkan lubangnya, lalu tutup rapat-rapat! ¬†Tidak hanya sebatas membersihkan saja (melalui amal perbuatan baik, nilai-nilai moral kebijaksanaan, dll.), tetapi juga harus menutup lubangnya (atau isi lubangnya sampai penuh)! Dengan apa menutup atau mengisi lubang tersebut? Satu-satunya yang layak mengisi lubang tersebut hingga penuh hanyalah DIA yang telah menciptakan kita. Tidak ada yang lain! Oleh sebab itu, jangan pernah berusaha mengisi lubang di hati kita dengan berbagai “campuran” hal-hal yang semu. Jangan menduakan Tuhan di hati kita, apakah dengan harta, tahta, atau wanita! Hanya DIA-lah satu-satunya yang layak untuk duduk, berdiam, dan berkuasa di tahta hati kita.

Manusia lahir ke dunia ini melalui lubang dan akhirnya pergi dari dunia ini juga melalui lubang (Anonim).

Seoul, 30 September 2013

Advertisements

Pekerjaanku, Makananku

delicious food

Pekerjaan itu seperti makanan. Keduanya dibutuhkan setiap hari. Jika dalam sehari kita tidak bekerja atau tidak makan sama sekali, kita akan merasa ada sesuatu yang kurang lengkap di hari itu. Tidak bekerja dalam waktu yang lama akan membuat kita merasa useless atau meaningless. Tidak makan dalam waktu yang lama akan membuat kita kelaparan dan mudah sakit karena daya tahan tubuh yang melemah. Pekerjaan dan makanan sama-sama berperan penting dalam memberikan energi bagi kehidupan manusia.

Terkadang, ada makanan yang rasanya sangat tidak kita suka, tapi sebenarnya ia baik dan bermanfaat bagi kesehatan kita. Tidak hanya anak kecil, tetapi orang dewasa juga banyak yang tidak suka sayur, karena rasanya tawar atau pahit. Namun, walaupun pahit, sayur baik bagi kelancaran pencernaan tubuh kita. Sebaliknya, ada makanan yang rasanya sangat manis, lezat, dan memanjakan lidah, tapi sebenarnya ia sangat tidak menyehatkan. Makanan-makanan berlemak pada umumnya menyuguhkan rasa yang menyenangkan bagi lidah kita, namun juga bisa membahayakan kesehatan jantung jika dikonsumsi secara berlebihan.

Demikian pula dengan pekerjaan: ada hal-hal yang kita sangat tidak suka untuk kerjakan tapi sebenarnya ia baik bagi pembentukan dan pertumbuhan karakter kita. Kadangkala pekerjaan-pekerjaan yang kita tidak suka lakukan-lah yang justru melatih kesabaran, ketekunan, dan kesungguhan kita. Namun sebaliknya, ada pekerjaan yang sangat menyenangkan untuk dikerjakan tetapi sebenarnya ia hanya menjebak kita dalam zona nyaman dan tidak membantu apapun untuk pertumbuhan karakter kita.

Kadangkala di pekerjaan ada hal-hal yang harus kita lakukan yang sama sekali tidak berhubungan dengan bakat atau keahlian terbaik kita. Hal-hal tersebut mungkin tidak terlalu menantang dan sering kita anggap remeh atau sepele. Mereka menuntut sebagian besar energi dan waktu, dan hanya sebagian kecil saja kemampuan otak kita. Pekerjaan-pekerjaan seperti inilah yang seringkali justru berurusan dengan karakter kita. Mereka sedang mengasah kecerdasan emosional dan spiritual lebih daripada kecerdasan intelektual kita.¬†Dalam pekerjaan apapun (tidak peduli apakah bergengsi/mendatangkan banyak uang atau tidak sama sekali), selalu ada bagian-bagian yang tidak menyenangkan untuk dikerjakan, tapi kita harus tetap melakukannya karena hanya dengan demikian-lah kita sedang ‘memaksa’ diri sendiri keluar dari kenyamanan (atau kemalasan). Seringkali ketika sudah nyaman, orang cenderung lupa diri atau sombong. Di sinilah pentingnya kehadiran “pekerjaan yang tidak menyenangkan”, karena ia-lah yang akan memberitahukan apakah kita sudah cukup rendah hati selama ini.

Jadi inti dari semuanya adalah: bersyukurlah dengan apapun jenis pekerjaan kita saat ini (apakah menyenangkan atau membosankan, ringan atau berat, mudah atau susah). Jangan mengeluh atau membanding-bandingkan dengan pekerjaan orang lain. Jalani pekerjaan kita dengan sungguh-sungguh dan senang hati. Pekerjaan kita juga adalah anugerah dari Tuhan karena itu lakukan semuanya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Duri dalam Daging

Sering kita dengar kutipan bijak dalam bahasa Inggris: “Nobody is perfect”¬†atau orang sering berkata: “Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan”.¬†Kedua pernyataan tersebut mengandung pesan moral yang senada, mengingatkan kita agar¬†selalu¬†rendah hati dan sederhana dalam menjalani hidup. Ketidaksempurnaan manusia dapat diibaratkan sebagai¬†“duri dalam daging” yang ada dalam diri setiap orang, supaya¬†tidak ada satupun yang menyombongkan diri dan hancur.

Setiap orang memiliki paling tidak satu keterbatasan dalam dirinya, yang dapat diartikan sebagai “duri dalam daging”. Keterbatasan tersebut seolah-olah ‘diberikan’ atau ‘diizinkan’ ada di dalam diri kita, tetapi ia bukan akibat dari dosa; ia ada untuk mengingatkan kita agar tidak memegahkan atau mengandalkan kekuatan diri sendiri, tidak malu untuk mengakui kelemahan dan meminta pertolongan pada orang lain, dan yang terpenting adalah: ‘menolong’ kita untuk selalu bersandar pada Tuhan.

“Duri dalam daging” seringkali berupa kelemahan fisik/jasmani, misalnya: indera penglihatan yang lemah, tubuh yang alergi terhadap kondisi tertentu, saraf dan koordinasi otot atau tulang yang lamban, dsb. Selain keterbatasan jasmani, “duri dalam daging” juga dapat berwujud keterbatasan-keterbatasan yang lain, seperti: keterbatasan pengetahuan, keterbatasan finansial, dsb. atau pengalaman-pengalaman kegagalan atau “aib” yang pernah kita alami di masa lalu. Semua keterbatasan tersebut memang acapkali menjengkelkan dan membuat kita frustasi. Banyak orang yang putus asa bergumul selama bertahun-tahun dengan “duri dalam daging”-nya, bahkan tidak sedikit yang menyerah dan mengakhiri hidupnya. Namun, sesungguhnya di balik segala kelemahan tersebut ada tujuan yang mulia, yaitu undangan untuk mendekat kepada Sang Pencipta.

Kita tidak sendiri. Orang-orang di luar sana juga sedang berjuang menghadapi pergumulan yang sama setiap hari, bahkan setiap waktu. Sesungguhnya kelemahan kita menjadi kesempatan bagi Tuhan untuk bekerja dengan sempurna. Jika kita masih merasa bisa, merasa kuat dan mampu, maka kita akan cenderung bekerja sendirian, tidak perlu meminta pertolongan Tuhan. Namun, jika kita menyadari betapa lemah dan tak berdaya-nya diri ini, maka kita akan selalu mengandalkan Tuhan dalam mengerjakan segala yang kita bisa.

Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bergemah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, dan di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. (2 Korintus 12:7-10, oleh Rasul Paulus)