Duri dalam Daging

Sering kita dengar kutipan bijak dalam bahasa Inggris: “Nobody is perfect” atau orang sering berkata: “Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan”. Kedua pernyataan tersebut mengandung pesan moral yang senada, mengingatkan kita agar selalu rendah hati dan sederhana dalam menjalani hidup. Ketidaksempurnaan manusia dapat diibaratkan sebagai “duri dalam daging” yang ada dalam diri setiap orang, supaya tidak ada satupun yang menyombongkan diri dan hancur.

Setiap orang memiliki paling tidak satu keterbatasan dalam dirinya, yang dapat diartikan sebagai “duri dalam daging”. Keterbatasan tersebut seolah-olah ‘diberikan’ atau ‘diizinkan’ ada di dalam diri kita, tetapi ia bukan akibat dari dosa; ia ada untuk mengingatkan kita agar tidak memegahkan atau mengandalkan kekuatan diri sendiri, tidak malu untuk mengakui kelemahan dan meminta pertolongan pada orang lain, dan yang terpenting adalah: ‘menolong’ kita untuk selalu bersandar pada Tuhan.

“Duri dalam daging” seringkali berupa kelemahan fisik/jasmani, misalnya: indera penglihatan yang lemah, tubuh yang alergi terhadap kondisi tertentu, saraf dan koordinasi otot atau tulang yang lamban, dsb. Selain keterbatasan jasmani, “duri dalam daging” juga dapat berwujud keterbatasan-keterbatasan yang lain, seperti: keterbatasan pengetahuan, keterbatasan finansial, dsb. atau pengalaman-pengalaman kegagalan atau “aib” yang pernah kita alami di masa lalu. Semua keterbatasan tersebut memang acapkali menjengkelkan dan membuat kita frustasi. Banyak orang yang putus asa bergumul selama bertahun-tahun dengan “duri dalam daging”-nya, bahkan tidak sedikit yang menyerah dan mengakhiri hidupnya. Namun, sesungguhnya di balik segala kelemahan tersebut ada tujuan yang mulia, yaitu undangan untuk mendekat kepada Sang Pencipta.

Kita tidak sendiri. Orang-orang di luar sana juga sedang berjuang menghadapi pergumulan yang sama setiap hari, bahkan setiap waktu. Sesungguhnya kelemahan kita menjadi kesempatan bagi Tuhan untuk bekerja dengan sempurna. Jika kita masih merasa bisa, merasa kuat dan mampu, maka kita akan cenderung bekerja sendirian, tidak perlu meminta pertolongan Tuhan. Namun, jika kita menyadari betapa lemah dan tak berdaya-nya diri ini, maka kita akan selalu mengandalkan Tuhan dalam mengerjakan segala yang kita bisa.

Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bergemah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, dan di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. (2 Korintus 12:7-10, oleh Rasul Paulus)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

About Philip Wijaya

A lifelong-learner and a story-writer who dreams to be a history-maker.