Hitam-Putih di Negeri Ginseng

Tanpa terasa di bulan November ini tepat dua tahun tiga bulan alias dua seperempat tahun kami tinggal di Korea Selatan. Tentu saja ada berbagai pengalaman suka-duka dan pahit-manis selama menjalani hidup di sini. Banyak orang mengira hidup di Korea itu begitu indah dan menyenangkan, layaknya drama Korea yang penuh romantika. Kenyataannya? Langsung saja, tanpa basa-basi lagi, kami akan bagikan pengalaman “hitam-putih” selama studi dan bekerja di Seoul (berdasarkan opini pribadi, tentunya) lalu teman-teman bisa nilai sendiri apa saja kesenangan maupun tantangan yang mungkin kalian juga akan alami jika memilih untuk merantau ke negeri ginseng.

Senangnya?

1. Bisa lihat salju.

Ya, kesenangan pertama adalah bisa melihat salju! (baca: bisa merasakan empat musim yang berbeda). Akhirnya winter-spring-summer-fall tidak cuma bisa kami dengarkan dari lagu You’ve Got A Friend, tapi kami telah saksikan dan rasakan sendiri sensasinya! Walaupun harus berjuang keras melawan dingin yang menusuk kala winter dan panas yang menyengat dan menghitamkan kulit kala summer, tapi aktivitas jadi bervariasi dan tak membosankan. Beragam outdoor activities, mulai dari snowboard hingga swimming bisa dilakukan setiap tahun. Buat kalian yang suka fashion, pakaian pun bisa gonta-ganti gaya setiap musim. Lumayan bermanfaat untuk teman-teman yang suka difoto. Pemandangan pun bervariasi, mulai dari daun warna hijau, kuning, merah, pink, hingga putih (kala tertutup salju) bisa kita jadikan background di foto kita. Lumayan membantu untuk teman-teman yang suka foto dengan objek pemandangan atau foto dengan objek diri sendiri yang membelakangi pemandangan alias selfie.

2. Lingkungan bersih, aman, dan teratur.

Cukup sulit menemukan tempat sampah di sekitar taman kota atau pinggir jalan, jadi pemandangan sepanjang jalan tampak bersih dan rapi. Kalau ingin buang sampah, seringkali kami harus turun ke subway atau pergi ke toilet (화장실) yang ada di dalam subway. Tempat sampah pun dibedakan menurut jenis sampahnya: plastik, gelas, kertas, sisa makanan cair, sisa makanan padat, dll. Kesadaran akan kebersihan pun tampak dari kebiasaan orang Korea saat selesai makan di kantin (식당), di mana pengunjung harus mengembalikan sendiri piring dan peralatan makan ke tempat penampungan atau rak khusus sebelum dicuci oleh yang bertugas. Selain kebersihan, tingkat keamanan di Korea juga cukup memuaskan. Jika di negara lain (baca: Indonesia) kita menaruh barang di sembarang tempat, kemungkinan akan hilangnya cukup besar dibandingkan jika itu terjadi di Korea. Jika barang kita hilang di Korea, kemungkinan akan ditemukannya cukup besar dibandingkan jika barang tersebut hilang di negara lain (baca: Indonesia). Ini disebabkan oleh kesadaran masyarakat lokal akan pentingnya integritas (baca: rasa tahu malu) untuk tidak mengambil barang yang bukan miliknya. Kami sendiri selama tinggal di tanah air sudah pernah beberapa kali mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, mulai dari kehilangan dompet beserta seluruh isinya (dan tidak kembali lagi sampai hari ini) hingga hampir dihipnotis dan mengeluarkan seluruh isi ATM (maaf jadi curhat).

3. Transportasi tepat waktu.

Selain lingkungan yang rapi dan teratur, ternyata transportasi di Korea juga bisa diandalkan, sangat cocok buat teman-teman yang sangat peduli pada janji dan jadwal (bukan seperti kami ini). Jika ingin bepergian, waktu berangkat dan pulang bisa diperkirakan dengan lebih tepat sehingga kita bisa merencanakan liburan dengan lebih mudah dan menyenangkan. Kejadian-kejadian tak terduga yang menyebabkan ngaret, seperti: macet, tabrak lari, tabrak kucing mati, jalan berlubang, pohon rubuh, dsb. sangat jarang bahkan hampir tidak pernah kami jumpai selama ini karena pilihan transportasi umum yang beragam dan nyaman, mulai dari bus, taksi, kereta bawah tanah (지하철), kereta di atas tanah (전철), hingga kereta super cepat (KTX). Keuntungan lain yang bisa dirasakan ketika menggunakan kereta adalah tersedianya akses Wi-Fi gratis sehingga kalian tidak perlu kuatir jika kehabisan kuota internet saat bepergian. Singkat kata, bagi teman-teman yang tidak ingin “tua di jalan”, Korea sangat cocok untuk dijadikan destinasi mencari nafkah berikutnya.

4. Internet ngebut.

Menurut survei terkini yang dilakukan oleh Akamai, perusahaan penyedia jaringan pengiriman konten dan jasa komputasi dalam State of the Internet Reports, kecepatan rata-rata internet di Korea Selatan adalah yang tertinggi di dunia (24,6 Mbps), lima kali lebih cepat daripada internet global dunia (4,6 Mbps) dan sepuluh kali lebih cepat daripada internet di Indonesia (2,5 Mbps). Internet yang ngebut ini cocok buat kalian yang hobi men-download film, komik, games, lagu, dll. Tarif internet-nya pun bisa disesuaikan dengan kebutuhan pemakai setiap bulan, tergantung layanan telepon yang kita pilih: prepaid (prabayar) atau postpaid (pascabayar). Dengan kecepatan internet yang luar biasa ini, kita bisa menelepon orangtua, saudara, ataupun pacar yang tinggal di Indonesia, tanpa perlu menggunakan kartu telepon internasional yang lumayan mahal, cukup dengan memanfaatkan teknologi messenger yang sudah sangat canggih seperti LINEYahoo, Skype, dll.

5. Kesejahteraan terjamin.

Bukan hanya soal gaji bulanan, tapi juga karena lingkungan yang bersih dan sehat, fasilitas olahraga yang memadai, tunjangan untuk medical check-up setiap enam bulan, makan malam gratis setiap hari plus belajar Bahasa Korea tanpa biaya kursus setiap semester. Saat sedang jenuh, capek, atau frustasi di pekerjaan, kami selalu bersyukur jika mengingat segala nikmat ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang-orang yang telah berjasa membantu kami sampai di sini. Segala kebaikan mereka pasti tak akan sia-sia dan sungguh akan dibalas dengan kebaikan yang lebih besar lagi. Amin.

Tantangannya?

1. Citarasa kimchi dan soju.

Pertama kali tiba di Korea, masakan Korea terasa sangat aneh di lidah kami. Mungkin gara-gara rasa bumbu rendang dan gorengan ala Indonesia yang sudah terlanjur melekat sehingga membuat bibimbap dan kimchi terasa tawar dan nggak nendang. Apalagi ketika pertama kali diajak ke restoran Korea untuk mencicipi soju, minuman beralkohol yang selalu menemani orang Korea saat bersilaturahmi. Rasanya sangat unik hingga membuat kami teringat akan larutan pembersih cat kuku. Pahitnya soju tak bisa dibandingkan dengan manisnya susu madu, minuman favorit kami. Namun, jangan salah sangka dulu, kimchi dan soju sangat dihormati (baca: digemari) di Korea karena mereka tidak pernah absen saat tiba waktunya untuk jamuan makan malam bersama para bos (istilahnya: lab dinner atau dalam bahasa Korea disebut 회식).

2. Sering kerja lembur (over time).

Sudah menjadi rahasia umum kalau sebagian besar orang Korea terkenal sangat doyan kerja (workaholic). Bahkan ada beberapa guyon yang bilang: “Orang Korea akan merasa berdosa kalau tidak bekerja sehari saja.” Jam kerja kantor di Indonesia rata-rata dimulai pukul delapan hingga tujuh belas waktu Indonesia bagian barat, sedangkan di Korea (baca: tempat kerja kami) dimulai pukul sembilan hingga delapan belas waktu setempat. Kurang lebih durasinya sama yakni delapan jam (setelah dipotong satu jam untuk istirahat makan siang). Namun, entah mengapa kerja di sini seolah-olah lebih terasa non-stop dan tidak banyak waktu untuk menganggur (baca: bersantai-santai). Di beberapa tempat kerja yang lain, bahkan ada yang lebih parah karena kebijakan para bos (yang biasanya sudah agak ‘berusia’) yang mewajibkan masuk kerja di hari Sabtu dan Minggu. Memang tidak semua seperti itu, karena kebetulan di tempat kami bekerja pun bos-nya masih muda, sehingga tidak harus masuk kerja selama weekend. Jadi sebelum memutuskan bekerja di Korea, berdoalah agar kelak bos kalian masih muda dan gaul, minimal punya pemikiran yang lebih modern, syukur-syukur kalau beliau juga suka hang-out jika di akhir pekan.

3. Semua serba cepat.

Sesuai dengan slogan kebanggaan masyarakat Korea, yaitu 빨리 빨리 (baca: bballi bballi), hampir semua hal dilakukan harus dengan cepat di sini. Pernah salah seorang teman kami bilang: “Kalau kamu kerjanya lamban, orang akan mengira kamu pemalas.” Jadi, rupanya orang Korea memang terbiasa melakukan apapun dengan gesit, bahkan berjalan dan makan pun juga harus cepat. Ini hal yang sangat positif bagi teman-teman yang biasa bekerja dengan santai (baca: lamban), seperti kami ini (dulu). Merespon permintaan bos juga harus cepat, jangan menunda-nunda pekerjaan karena esok hari mungkin saja akan ada permintaan yang lebih banyak lagi. Intinya, budaya bballi bballi telah mengajarkan kami tentang pentingnya sense of urgency. Walaupun cukup kontras dengan budaya Jawa “alon-alon asal kelakon” ataupun pepatah bijak “biar lambat asal selamat” yang telah begitu kental merasuki jiwa kami, namun syukurlah kami akhirnya bisa beradaptasi dan melalui semua ‘cobaan’ dengan cukup baik.

4. Cuaca yang sering galau.

Yang menarik, ternyata tidak cuma masyarakatnya yang kerja serba cepat, tapi alamnya pun juga berputar cepat silih berganti. Empat musim di Korea menyebabkan perubahan cuaca yang cepat kurang lebih setiap tiga bulan sekali. Suhu udara paling sering naik-turun selama peralihan dari musim satu ke musim berikutnya. Saat udara dingin di winter mencapai puncaknya (rekor yang pernah kami alami yaitu minus delapan belas derajat), telapak tangan ini akan mati rasa kalau tidak memakai gloves dengan bahan khusus yang hangat (wol, misalnya). Saat udara panas di summer mencapai puncaknya (rekornya tiga puluh delapan derajat), lebih baik tinggal di dalam ruangan kalau tidak ingin kulit jadi gosong eksotis. Jadi, sebelum bepergian keluar, sangatlah bijak jika kita melihat dulu kondisi udara di hari itu melalui ramalan cuaca yang ada di smartphone masing-masing.

5. Bergaul dengan Bahasa Korea aktif.

Sebelum ke Korea, jujur saja kami dulu sempat membayangkan seraya berharap agar kemampuan bahasa Inggris kami mengalami peningkatan tajam setelah hidup di sini. Kami mengira setiap hari akan bertemu dengan orang-orang yang fasih berbicara bahasa Inggris, tak peduli apakah ia orang Korea, bule, atau negro sehingga skill kami pun bisa ter-upgrade, at least pronouncation skill. Kenyataannya, kami justru bertemu dengan banyak orang Indonesia dan sebagian besarnya adalah wong jowo! Padahal kami telah bercita-cita untuk menghilangkan aksen medhok saat berbicara, tapi entah mengapa justru kami dihadapkan pada tantangan baru, yaitu sebuah misi untuk menghapuskan logat medhok kami ini di tengah-tengah komunitas yang sebagian besar beranggotakan orang-orang berlogat medhok. Kami pun hanya bisa menyadari bahwa populasi wong jowo di dunia kini sudah semakin meningkat pesat. Logat medhok pun sudah semakin go internationalAnyway, kembali ke Bahasa Korea. Singkat saja, jadi intinya kami hanya ingin bilang bahwa jika ingin survive di sini, belajarlah bahasa dan budaya setempat karena pasti akan sangat membantu kelangsungan hidup kalian.

Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis.

Seoul, November 2014.

trazy.com

Advertisements