Prinsip Hidup Basuki dari Kitab Suci

Tiga tahun terakhir namanya begitu ramai diperbincangkan. Hampir setiap hari sepak terjangnya di dunia politik dan pemerintahan menghiasi media massa, baik di dalam maupun luar negeri. Sosoknya begitu kontroversial: banyak kawan, begitu juga lawan; yang mana merupakan ciri khas orang yang benar-benar sukses dan berpengaruh. Setelah begitu banyak yang dilakukannya untuk Jakarta, kiprahnya harus terhenti sementara waktu akibat vonis kontroversial terkait penodaan agama.

Hari ini, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-51, ribuan bahkan jutaan orang merindukan kehadirannya, baik di layar kaca, di sosial media, maupun di Balai Kota. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengenang kembali kisah perjuangannya yang begitu menginspirasi. Langsung saja tanpa basa-basi, inilah 7 prinsip hidup Basuki Tjahaja Purnama yang didasari oleh Kitab Suci:

Prinsip 1: Mati adalah keuntungan

Beberapa kali kita mendengar Basuki mengatakan dengan sangat tegas, “Nyawa pun saya berikan untuk Jakarta!” Demi terwujudnya ibukota yang bersih dari korupsi, beliau rela memberikan hidupnya; sepenuh waktu, tenaga, dan pikirannya didedikasikan untuk transformasi Jakarta, yang bisa dibilang merupakan kunci untuk transformasi Indonesia. Prinsip ini memang bisa dibilang gila dan tidak biasa, mengingat biasanya orang (baca: pejabat) justru takut mati dan ingin selama mungkin menikmati kekuasaannya. Namun, Basuki memang beda. Memang beliau bukanlah superman atau manusia setengah dewa, tapi di dalam dirinya terkandung “DNA” atau karakteristik juru selamat, yaitu rela berkorban demi menyelamatkan orang lain, terutama kaum yang lemah. Yang dimaksud “mati” di sini tentu tidak hanya mati secara fisik, tapi juga mati bagi kepentingan diri sendiri. Tidak ada ambisi pribadi untuk memperkaya diri sendiri, tetapi yang terutama adalah pengabdian bagi bangsa dan negara; serta yang lebih utama, yaitu hidup untuk Tuhan.

Karena bagiku hidup adalah Kristus  dan mati adalah keuntungan. (Filipi 1:21)

Prinsip 2: Tuhan yang berdaulat, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil

Masih teringat jelas pernyataan Basuki di hadapan media setelah pengumuman hasil Pilkada putaran kedua yang lalu, “Percayalah, kekuasaan itu Tuhan yang kasih dan ambil!” Tentu tidak mudah mengeluarkan pernyataan seperti ini, dengan begitu tenang dan percaya diri, dalam suasana kekalahan yang tentu mengecewakan banyak pihak yang telah mati-matian mendukungnya. Namun, sikap yang ditunjukkan Basuki menunjukkan kematangan akhlaknya. Beliau menerima kekalahan dengan lapang dada dan jiwa besar, padahal ada sinyal yang cukup kuat bahwa kekalahannya sebagian besar diakibatkan oleh isu-isu SARA dan primordialisme, yang mana tidaklah fair dan objektif. Ibarat dalam kompetisi menyanyi, pemenang ditentukan bukan karena kualitas suara dan penampilannya yang bagus, tapi karena etnis dan agamanya sama dengan dewan juri dan penontonnya. Tentu menyakitkan, bukan? Namun, ada hikmah di balik semua yang telah terjadi. Setidaknya publik kini bisa melihat dan meneladani kebesaran hati Basuki, dan sejarah mencatat, tanpa bisa dihapuskan kembali, bahwa ada seorang negarawan yang tetap beriman pada Tuhan ketika dihadapkan pada kenyataan yang pahit sekalipun.

Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali  ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN! (Ayub 1:21)

Prinsip 3: Orang-orang miskin selalu ada di antara kita

Motivasi utama Basuki masuk dunia politik adalah untuk membantu orang miskin, yang mana hanya bisa dilakukan secara luas dan maksimal jika seseorang memegang kekuasaan (menjadi pejabat). Salah satu kebijakan Pemprov DKI dalam mengadministrasi keadilan sosial adalah dengan menyediakan rumah susun sederhana sewa (rusunawa), bagi warga yang direlokasi karena penggusuran. Dasar dari kebijakan ini disampaikan oleh Basuki, “Orang miskin pasti akan selalu ada di Jakarta. Sampai kita mati, sampai kiamat pun pasti ada.” Jika demikian, apakah berarti bahwa kita tidak perlu memerangi kemiskinan? Tentu tidak. Ada kemiskinan yang disebabkan oleh kemalasan, namun ada juga yang disebabkan oleh kondisi politik, yaitu karena ketidakadilan, lemahnya penegakan hukum serta korupsi para penguasa. Inilah kemiskinan yang harus kita perangi bersama, yang mana peperangannya kini tidak lagi dipimpin oleh Basuki.

Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu,  tetapi Aku (Yesus) tidak akan selalu ada pada kamu. (Yohanes 12:8)

Prinsip 4: Pemimpin yang melayani 

Dalam memimpin Jakarta, Basuki menempatkan dirinya sebagai pelayan masyarakat. “Kami adalah pelayan warga DKI. Rakyat adalah bos kami,” demikian pernyataan beliau bersama wakilnya, Djarot Saiful Hidayat, dalam salah satu debat cagub DKI beberapa waktu yang lalu. Lalu siapakah rakyat yang dimaksud? Faktanya, tidak semua rakyat menyukai beliau, bahkan hasil akhir Pilkada menunjukkan bahwa ternyata mayoritas bukanlah pemilih Basuki-Djarot. Penulis mencoba menafsirkan di sini, bahwa “rakyat” yang dimaksud adalah orang-orang yang membutuhkan, kaum yang tertindas dan terpinggirkan, yang selama ini menanti-nantikan pemimpin yang bisa membawa keadilan dan kemakmuran bagi warganya. Dalam tangis dan jeritan rakyat kecil inilah kita bisa menemukan “suara hati” Sang Pencipta. Prinsip pemimpin pelayan (servant leader) ini sejalan dengan teladan yang telah diajarkan oleh Yesus, yang tertulis dalam ayat berikut:

Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. (Matius 20:26-28)

Prinsip 5: Kekuasaan sebagai ujian karakter

Ketakutan terbesar Basuki adalah ketika sebagai pejabat beliau tidak bisa amanah (dipercaya oleh rakyatnya). Dalam hidup, beliau berprinsip bahwa nama baik lebih berharga daripada harta kekayaan atau kekuasaan, sesuai dengan ayat berikut:

Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. (Amsal 22:1)

Selain itu, Basuki juga berpedoman pada teori Abraham Lincoln, Presiden Amerika ke-16, yang menyatakan bahwa “untuk menguji karakter seseorang, berikan ia kekuasaan.” Hal ini mengacu pada kebiasaan orang-orang yang masuk ke dunia politik, menjadi pejabat, dan kemudian tidak dipercaya lagi karena mereka terjebak dengan politik uang dan bagi-bagi sembako untuk meraih kekuasaan. Artinya? Menjadi pejabat bukanlah hal yang mudah. Untuk menjadi penguasa, seseorang harus tahan uji; ia harus kuat mental dan memiliki karakter yang jujur, berintegritas, serta bertanggung jawab. Ia harus siap menderita dan bekerja keras sepenuh hati, jiwa, raga.

Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. (Lukas 12:48)

Kekuasaan adalah kepercayaan dari Tuhan, yang diwakilkan oleh rakyat. Dengan demikian, pemerintah memiliki tanggung jawab lahir batin pada rakyat di kehidupan sekarang dan pada Tuhan di kehidupan yang akan datang. Karena itulah, pejabat disumpah setia mengabdi pada kepentingan bangsa dan negara serta pada Pemberi kekuasaan sebelum mulai menjalankan tugasnya.

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. (Lukas 16:10)

Prinsip 6: Mengabdi pada Tuhan, bukan uang

Menurut Basuki, “Akar dari permasalahan bangsa ini adalah korupsi, karena orang terlalu cinta uang.” Hal ini sejalan dengan ayat berikut ini:

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1 Timotius 6:10)

Jika motivasi kita menjadi pejabat adalah karena ingin kaya, lebih baik jangan jadi pejabat! Kalau ingin kaya, jadi pengusaha atau pedagang saja, yang jelas-jelas orientasinya adalah meraup keuntungan sebesar-besarnya. Lagipula, kalau dipikir-pikir, untuk apa sebenarnya jadi orang kaya? Apakah agar kita bisa lebih tenang karena segala kebutuhan kita pasti akan terpenuhi? Apakah agar kita tidak perlu lagi berharap-harap cemas pada Tuhan karena kita sudah memiliki segalanya? Bukankah fakta menunjukkan hal yang sebaliknya: orang-orang yang tidak tenang, ketakutan, tidak bisa tidur, terlibat pertikaian, dsb. justru kebanyakan adalah mereka yang memiliki harta materi berlimpah? Ada baiknya kita belajar dari apa yang disampaikan Rasul Paulus berikut ini:

Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. (1 Timotius 6:17)

Jadi bagaimana? Dalam hidup ini kita memerlukan “pegangan” atau “sandaran”, setidaknya untuk memberikan ketentraman batin, walau untuk sementara waktu. Apakah jerih lelah kita bekerja selama ini hanya karena dimotivasi oleh uang? Dengan menumpuk kekayaan yang besar, apakah kita bisa lantas memastikan keamanan, kedamaian, dan kebahagiaan dalam rumah tangga kita? Siapakah sumber kehidupan kita yang sesungguhnya? Siapa yang terus kita kejar dalam hidup ini? Uang atau Tuhan?

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Matius 6:24)

Prinsip 7: Jangan kuatir dalam menjalani hidup

Suatu ketika, ada yang bertanya pada Basuki apakah beliau tidak kuatir ada yang menembaknya mati. Jawab beliau, “Mati kan di tangan Tuhan? Kalau kamu memang harusnya mati muda mau bilang apa? Memang kamu takut bisa membuat tidak jadi mati? Kalau kekuatiran bisa membuat saya jadi panjang umur, saya mau kuatir. Tapi kan enggak? Jadi buat apa takut?” Rupanya inilah jawaban mengapa Basuki tidak takut dibunuh. Beliau percaya hidup-mati ada di tangan Tuhan, yang telah berkata dengan jelas pada murid-muridNya, sesuai yang tertulis di ayat berikut:

Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. (Matius 6:25-34)

Demikianlah, sedikitnya 7 prinsip hidup Basuki dari Kitab Suci. Semoga menginspirasi.

Selamat ulang tahun, Bapak Basuki Tjahaja Purnama. Terima kasih atas karya pengabdianmu, kebesaran jiwamu, dan ketulusan hatimu dalam perjuanganmu mengadministrasi keadilan sosial. Walaupun daerah kerjamu sebatas DKI, namun dampak kerjamu seluas Indonesia, bahkan inspirasimu menjangkau dunia!

Kiranya Tuhan selalu melimpahkan berkat rohani dan jasmani bagi Pak Basuki dan keluarga. Tetap BTP (bersih, transparan, profesional) dan MERDEKA!

Vancouver, Juni 2017

Advertisements

Refleksi Pemerintahan dan Politik di Indonesia

Pergelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta telah usai pada 19 April yang lalu. Walaupun saat ini penulis sedang berada jauh dari tanah air, namun banyak cerita menarik dan penuh intrik seputar dunia pemerintahan dan politik di tanah air yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Banyak hikmah dan pelajaran hidup yang bisa diambil, baik dari kisah (stories) maupun sosok (figures) yang inspiratif. Momen hari lahirnya Pancasila ini mengingatkan kita bahwa keberagaman adalah takdir Indonesia; Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Tulisan ini merupakan perspektif pribadi penulis tentang dunia pemerintahan dan politik di Indonesia saat ini dan tidak dimaksudkan untuk mewakili ideologi institusi atau lembaga manapun.

Sebelum bergerak lebih jauh, penulis ingin membedakan antara pemerintahan dan politik. Pemerintahan adalah sarana Tuhan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Oleh karenanya, pemerintah harus bersih, jujur, adil, tegas, dan profesional dalam melayani rakyatnya. Sedangkan politik adalah tentang perebutan kekuasaan, yaitu bagaimana mencapai posisi tertinggi agar dapat mengendalikan rakyat, menguasai sumber daya alam, dan fokusnya adalah melayani kepentingan pribadi atau golongan. Tidak heran banyak orang menyebut politik itu kotor. Dan politik ini tidak hanya ada dalam pemerintahan, tapi juga bisa masuk ke dalam bidang atau institusi lainnya, seperti pendidikan, olahraga, agama, dll. bahkan hingga ke institusi terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. Bukankah sering terjadi perebutan kekuasaan atau harta warisan dalam keluarga? Itulah politik. Jadi menurut penulis, pemerintahan dan politik adalah dua hal yang perlu dibedakan, demikian juga pemerintah dan politisi.

Sedikitnya, ada tiga hikmah yang bisa kita pelajari bersama dari berbagai peristiwa yang terjadi, baik sebelum, selama, maupun sesudah pergelaran Pilkada DKI 2017, dari kacamata penulis:

Belajar dari kulit yang terluka

Orang yang pernah mengalami luka di kulit (karena tergores, misalnya) pasti tahu betapa repot mengobatinya. Ketika remaja, saya suka bermain sepak bola di jalan depan rumah bersama teman, dengan kaki telanjang. Suatu kali saya melakukan kecerobohan yang membuat telapak dan kuku jempol kaki saya terluka cukup parah. Setelah beberapa hari, luka di telapak kaki saya bernanah sehingga menyebabkan saya harus berjuang keras untuk bisa berjalan kaki dengan normal; memakai sepatu pun tidak nyaman. Di saat itu, saya cukup sering mengkonsumsi makanan atau minuman manis, sehingga perlu waktu yang cukup lama untuk luka (borok) tersebut mengering dan sembuh. Ketika ditetesi obat, rasa perihnya sungguh luar biasa, membuat saya berteriak kesakitan. Pernah punya pengalaman yang sama?

Bangsa Indonesia saat ini sedang terluka; ada luka lama, ada luka baru. Permasalahan SARA (suku, ras, dan agama) dan primordialisme (sikap memegang teguh keyakinan yang dibawa sejak lahir) adalah luka lama yang sudah dibiarkan bertahun-tahun sehingga sepertinya sekarang ini sudah menjadi borok yang baunya amat menjijikkan. Luka-luka lainnya adalah permasalahan korupsi dan kemunafikan yang menjerat para penguasa di negeri ini. Menurut saya, sebagian besar luka ini dipicu oleh kecerobohan manusia, yang terus ‘memelihara’ sikap iri hati, dengki, pikiran negatif, nafsu harta duniawi, kekuatiran, dan kesombongan. Disadari atau tidak, orang yang terluka biasanya akan cenderung melukai orang lain (hurting people hurt people) karena mereka tidak ingin sendirian. Akibatnya, siklus jahat ini terus berulang dari generasi ke generasi. Pertanyaannya, kapan kita mau sembuh?

Sesungguhnya Tuhan telah mengirimkan obat-nya, yaitu pemimpin-pemimpin yang bersih hati nurani-nya dan menginginkan kemajuan nyata bagi bangsa ini. Mereka tegas melawan borok korupsi dan kemunafikan yang sudah bertahun-tahun tak kunjung sembuh. Namun apa hasilnya? Sebagian besar orang tak terima dan berteriak kesakitan ketika obat tersebut diteteskan pada luka mereka. Rasa ‘nyaman’ mereka terganggu, seolah-olah mereka tak ingin sembuh dan bahkan ingin menutupi atau menyembunyikan borok-borok tersebut. Mereka hanya ingin terus makan dan minum yang manis-manis, yaitu kenikmatan harta duniawi, yang pada akhirnya justru akan mengakibatkan diabetes dan impotensi dalam diri mereka. Mereka tak sadar dan tak mau tahu bahwa pemimpin-pemimpin yang bersih adalah obat yang menyembuhkan, sekalipun awalnya menyakitkan bagi mereka. Sungguh ironis jika akhirnya obat-obat penyembuh luka itu malahan disingkirkan dan dicampakkan. Pertanyaannya sekarang, benarkah kita ingin sembuh? Apakah kalian rela jika kita menjadi bangsa yang berpenyakitan dan tak punya potensi, daya saing di hadapan bangsa-bangsa lain?

Roh agamawi yang membunuh nurani

Di antara semua borok, menurut saya ada satu borok yang patut diwaspadai oleh bangsa ini, yaitu roh agamawi. Ia seperti sel kanker yang sedang menggerogoti sel-sel sehat yang lain, menularkan virus penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan. Sama seperti virus yang tak kasat mata, roh agamawi ini pun tak kelihatan, namun bekerja sangat aktif, terutama dalam alam pikiran manusia. Pikiran-pikiran yang menganggur atau bermalas-malasan (idle) sering menjadi korbannya. Jika virus ini diberi tempat dalam waktu yang lama, maka ia tidak hanya menyerang pikiran, tapi juga akan mematikan hati nurani. Sel kanker ‘roh agamawi’ ini akan memakan habis  sel-sel ‘rasional’ yang ada dalam hati dan pikiran manusia. Lalu apa yang saya maksudkan dengan roh agamawi ini? Di dalamnya adalah paham legalisme, yang dapat diartikan sebagai: “suatu sikap pembenaran diri sendiri dengan menaati peraturan-peraturan (agama) buatan manusia”…

Ada yang bilang bahwa agama berasal dari Tuhan, diwahyukan dari langit. Jika demikian halnya, maka sedikitnya ada dua pertanyaan besar: (1) Apakah semua agama yang berbeda-beda diturunkan oleh Tuhan yang berbeda-beda? (2) Apakah Tuhan ‘sengaja’ menurunkan agama untuk memecah-belah manusia ciptaanNya? Bukankah sejarah telah membuktikan bahwa agama justru membawa pemisahan dan, karenanya, bukanlah alat pemersatu? Bukankah Tuhan sendiri adalah Pencipta segala makhluk, yang artinya memiliki inklusivitas tak terbatas? Lagipula, bukankah orang-orang justu menjadi sombong dan munafik karena beragama? Karena itulah, saya sepenuhnya yakin bahwa agama adalah buatan manusia. Ia dilahirkan oleh pikiran (atau budi pekerti) manusia, dihasilkan dari interpretasi (penafsiran) manusia, yaitu tentang aturan-aturan hidup di dunia, yang mengatur hubungan antara manusia dengan Pencipta, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam sekitarnya. Agama adalah cara manusia menafsirkan dan memahami perintah Tuhan dan laranganNya. Memang, semua perintah dan larangan Tuhan tujuannya baik, namun ketika sudah sampai pada interpretasi manusia, maka penyimpangan-penyimpangan bisa (dan telah) terjadi, terutama jika sudah berkaitan dengan kepentingan pribadi atau kekuasaan. Maka orang-orang mulai menggunakan nama Tuhan demi meraih harta, tahta, dan cinta duniawi. Ini semua berawal dari… roh agamawi! Hal ini membuktikan bahwa semua agama telah rusak (corrupted) akibat dosa manusia (human error). Oleh karenanya, agama tidak akan pernah mampu menyelamatkan manusia. Keselamatan hanya berasal dari Tuhan Sang Juruselamat.

Selain mendorong pembenaran diri sendiri, roh agamawi juga bisa menyebabkan orang-orang menjadi sesuatu yang saya sebut sebagai “religious impotent”, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, tapi tidak melakukannya. Mereka senang memakai atribut-atribut agamawi, seperti misalnya kalung salib, sorban, jubah, kerudung, dsb. agar orang lain menyangka bahwa mereka ini adalah orang-orang yang religius, alim, berakhlak, bermoral, dan dekat dengan Tuhan. Kaum religius ini (para ahli kitab suci dan pemuka agama) sering terjebak pada kebenaran yang mereka buat sendiri, akibatnya mereka sering merasa paling benar dan bersikap judgmental terhadap orang lain, terutama kaum yang lemah (minoritas). Mereka (mungkin) merasa bahwa posisi mereka lebih tinggi dibanding masyarakat awam (yang tak tahu-menahu soal urusan agama dan lebih memikirkan perkara sehari-hari). Yang menyedihkan lagi, mereka menganggap bahwa segala jerih payah dan amal kebaikan mereka akan bisa mendatangkan keselamatan bagi mereka (di dunia dan akhirat), sehingga dengan begitu, mereka menolak anugerah Tuhan. Mereka (mungkin) meyakini bahwa jika mereka selamat, itu karena mereka baik; padahal yang seharusnya adalah karena Tuhan yang baik! Karena itu, mereka sering terjangkiti oleh rasa cemburu yang luar biasa, terutama ketika melihat orang-orang yang tak beragama meraih kesuksesan dan kenikmatan hidup di dunia. Mungkin mereka berpikir, “Bagaimana mungkin orang-orang kafir ini punya mobil dan rumah yang lebih indah dan keluarga yang lebih bahagia daripada yang aku miliki; padahal aku lebih rajin beramal, beribadah, dan berbakti pada Tuhan dibandingkan mereka!” Akhirnya… mereka mulai berkompromi, mereka mulai menggunakan jubah-jubah religius dan mimbar-mimbar peribadatan untuk mengumpulkan kekayaan duniawi, hati mereka mulai bergeser dari cinta Tuhan ke cinta uang, dan… mereka pun terjebak dalam kesalehan palsu! Tak heran, kaum religius semacam ini akhirnya sering dimanfaatkan sebagai ‘alat’ atau ‘kendaraan’ untuk mencapai ambisi politik oleh para penguasa yang zalim. Jadi, jangan heran ketika melihat orang-orang yang tak beragama, bahkan atheist, justru berkelakuan lebih baik dan lebih bermoral daripada orang-orang yang (mengaku) beragama.

Jadi sekarang, pilihannya hanya ada dua, yaitu: Tuhan atau uang. Jika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, maka dalam hidup ini kita akan mempercayaiNya. Kita percaya bahwa pemeliharaanNya sempurna, sehingga kita tak akan kekurangan sesuatu apapun. Kita akan menjalani hidup dengan lebih tenang, damai, sukacita, penuh pengharapan, dan berserah penuh pada Sang Pemilik hidup. Kita tidak perlu hidup dalam kekuatiran, karena Tuhan pasti memenuhi segala kebutuhan kita. Sebaliknya, jika kita mencintai uang, maka dalam hidup ini kita tidak akan pernah tenang, sering kuatir dan gelisah, tak akan pernah terpuaskan, dan akan selalu cemburu, iri hati melihat kesuksesan orang lain. Jerat roh cinta uang ini akan menghancurkan hati nurani kita, membuat kita hidup mengandalkan kekuatan diri sendiri dan berusaha mencapai kesuksesan melalui jerih payah dan kerja keras yang tak ada habisnya. Jadi jelas, roh cinta uang punya hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan roh agamawi! Lalu, jika demikian, apakah kita tidak boleh beragama? Jawaban saya: jadilah orang yang rohani, bukan religius, karena being spiritual is not equal to being religious. Orang-orang yang rohani memikirkan perkara-perkara rohani, yaitu hal-hal yang tidak kelihatan, sedangkan orang-orang yang religius (cenderung) memikirkan perkara-perkara agamawi demi mencapai hal-hal yang kelihatan, yaitu perkara-perkara duniawi.

Pemimpin yang melayani dan dicintai rakyatnya

Nasib sebuah bangsa sangat tergantung pada sistem pemerintahannya. Mengapa negara seperti Korea Selatan dan Korea Utara, walaupun ada di tanah yang sama, memiliki nasib yang berbeda drastis? Alasan utama: karena perbedaan sistem pemerintahan. (Silakan googling untuk informasi lebih lanjut karena ini di luar lingkup pembahasan saya sekarang). Sederhananya begini: jika negara diibaratkan manusia, maka pemerintah adalah bagian otak (kepala) nya. Kalau otaknya rusak, seluruh sistem saraf dan kerja anggota tubuh yang lain akan terganggu. Sebaliknya, jika otak sehat, maka tubuh akan berfungsi optimal.

Agar menjadi bangsa yang maju, adil, sejahtera, dan berpengaruh di dunia internasional, Indonesia harus sembuh dari “luka borok di kulit” serta “belenggu roh agamawi” yang sudah bertahun-tahun dibiarkan. Obat terbaik yang dapat membawa kesembuhan bagi dua penyakit ini sebenarnya sudah ada sekarang, yaitu para pemimpin yang bersih, transparan, dan profesional. Mereka adalah pemimpin pelayan (servant leader), yang tulus mengabdikan hidup untuk melayani, bukan untuk dilayani atau memanfaatkan jabatan untuk kesenangan pribadi. Mereka tidak takut bahaya, bahkan tidak takut mati dalam menjalankan tugas pengabdiannya, karena mereka siap berkorban jiwa raga. Bagi mereka, mengalami kematian di saat menjalankan amanah Tuhan adalah sebuah kehormatan. Dan benar, mereka adalah orang-orang yang sudah ‘mati’ bagi diri mereka sendiri; mereka sudah selesai dengan dirinya sendiri, tidak ada hasrat untuk mengejar ambisi pribadi, yaitu kekuasaan duniawi. Mereka percaya bahwa hidup mati ada di tangan Tuhan, yang berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali; sama seperti halnya mereka percaya bahwa jabatan, promosi, atau kekuasaan adalah berasal dari Tuhan. Dengan konsep iman seperti ini, tidak heran bila mereka bisa menjalankan tugas pemerintahan dengan tanpa beban, penuh energi dan tak kenal lelah. Cita-cita mereka adalah menegakkan kebenaran serta mewujudkan keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat. Pertanyaannya sekarang, kapan pemimpin-pemimpin semacam ini diberikan kesempatan? Tenang, harapan masih ada (bila kita terus berjuang dan percaya)…

Vancouver, 1 Juni 2017

trazy.com