Sweet Memory of My Graduation Day in Korea

No words can best describe how happy I am today. Time has been running so fast, two years study is finally completed and I feel so blessed that my graduation day is marked with a truly wonderful and unforgettable memory witnessed by my beloved parents and lovely twin-sister: a privilege to deliver a speech as the winner of Academic Excellence Award in Fall Commencement 2014 at Korea Institute of Science and Technology (KIST), Seoul. Five days prior, we also celebrated the corresponding award in the graduation ceremony at Korea University of Science and Technology (UST), Daejeon.

UST Graduation 140814

KIST Graduation 140819

Here is the script of my commencement speech:

Good afternoon ladies and gentlemen, all faculty members, family, and fellow graduates.

My name is Philip Wijaya from Indonesia and I am graduating Master student in KIST Seoul. I am so thankful to IRDA office and Dr. Lee Byung Gwon as the president, for giving me this once-in-a-lifetime opportunity to deliver a speech in this wonderful day.

First of all, I would like to congratulate each and every graduate here as your wise decision to pursue higher study and your perseverance in doing all the research works are finally being rewarded today. I wish all the best for your future careers and I hope that we all can continuously contribute our knowledges for a better future in our society.

To be standing here right now on this podium is something that I’ve never imagined before. It is truly beyond my expectation and something that even never comes to my mind. In this occasion, I would express my deepest gratitude to Dr. Kim Chang Soo for his approval has allowed me to come and to learn a lot of things here in Korea. When I came to this Land of Morning Calm for the first time two years ago, it was my very first time to experience living in a four seasons-country and to mingle with people from around the world, frankly speaking, I was actually not confident enough to finish my study very well. Facing one of the most popular Korean cultures, which is known as bballi bballi that reflects how Korean people are used to do everything quickly, has challenged me a lot. Before I came to Korea, I thought of myself as a kind of slow person who liked to do everything in the opposite way of Korean people usually do, because I was grown up in a community that embraces “slow but sure” philosophy instead of bballi bballi. Adapting these two different cultures is the reason why I have been learning so many things in Korea, especially related to academic and work ethics, how to have a good attitude towards our responsibilities, and how to sincerely show our respect to others, especially the elders.

We believe that success would never be accomplished by the only one man’s labor. Behind our achievement, there has been enormous support and help from others. At this moment, I would also express my gratefulness to Dr. Ha Jeong-Myeong, Dr. Lee Hyunjoo, Dr. Suh Dong Jin, and Dr. Jae Jungho for all the valuable advices on my research work; and also to all the staffs of IRDA: Mr. Seungjin Ahn, Ms. Julie Hwang, Ms. Kim Nuri, Mr. Yeong Ho Moon, Ms. Park Hanla, and Ms. Hyun NaYoung, for the academic support and personal assistance during my study; also to all the staffs of KIST cafeteria, for providing delicious meals everyday that has given us extra energy to completely do all the works. Thanks be to all my friends, who have sincerely and joyfully supported me a lot, especially to Indonesian community for making me feel at home, during our study and lifetime here. I would also not forget to give special thanks to my parents, brother, and twin-sister for every minute of your love, to pray the best for me, and to trust in me in any decision I made. Last but not least, I am pleased to dedicate all of my joy and happiness today to the Lord Jesus Christ for all His abundant blessing and unending love. In the good and bad times, the bright and gloomy days, the highs and lows, He is always there for me.

Finally, I would sincerely say that this award is not about the prize or money, but it reveals more about our collaborative and dedicative works together in a harmony, that for me it is a priceless and timeless gift. As you are listening to this commencement speech, we are reminded that ‘commencement’ does not only mean a “graduation ceremony”, but also literally means “beginning or start”. Today is not the end, it is just the beginning of our journey. I hope that all the blessing, mercy, and grace will always be with us wherever we go and whatever we do. Thanks for your attention.

2014 KIST Fall Graduation (1) 2014 KIST Fall Graduation (2)

trazy.com

Advertisements

Akar Masalah Konflik di Dunia

Dunia saat ini sedang mengalami kelaparan rohani (spiritual hunger). Banyak orang kecewa dan putus asa melihat kenyataan hidup: konflik, pertikaian, dan peperangan terjadi di mana-mana, antar-keluarga, antar-suku, antar-agama, antar-bangsa, dan seterusnya. Satu fakta yang ironis adalah bahwa agama, yang seharusnya membawa kedamaian dan kebaikan, justru dijadikan ‘alat’ permusuhan dan perpecahan. Jika benar bahwa agama adalah rahmat Allah yang penuh kasih, mengapa ia justru melahirkan kebencian yang begitu hebat, sampai-sampai penganutnya rela mati demi memperjuangkan ‘kemurnian’ agama-nya, sekaligus dengan melenyapkan nyawa ribuan orang lain yang dianggap telah ‘mencemarkan’ agama-nya?

Ini adalah salah satu pertanyaan besar dalam sejarah yang belum terselesaikan selama ribuan tahun dan menyangkut nasib manusia di dunia dan akhirat. Bagi saya, yang sebenarnya masih terlalu ‘hijau’ untuk memiliki pandangan terhadap pertanyaan tersebut, segala bentuk pelanggaran terhadap hak hidup manusia yang mengatasnamakan agama sebenarnya merupakan bukti sah bahwa agama bukanlah jalan keselamatan. Faktanya tak terbantahkan: orang-orang yang mengaku beragamalah (a = tidak, gama = kacau) yang justru menjadi dalang utama penyebab kekacauan besar yang terjadi dalam peradaban manusia. Akhirnya, banyak orang menjadi muak dan apatis terhadap kaum religius. Mereka benci kemunafikan dan sikap “sok rohani” para pemimpin agama. Kelaparan mereka akan kebenaran tak terpuaskan dan pertanyaan-pertanyaan dalam hati mereka tak menemukan jawaban. Tak heran, akhirnya tak sedikit yang memutuskan untuk menjadi atheis.

Tanpa bermaksud menyederhanakan persoalan, menurut keyakinan kami, akar dari segala kejahatan para kaum religius ini adalah iri hati dan kepentingan diri sendiri. Mari membahasnya lebih rinci. Yang pertama, iri hati. Iri hati terhadap siapa? Jawabannya: terhadap kebenaran yang sejati. Sikap iri hati ini bukanlah ‘barang baru’ dalam masyarakat kita. Ia sudah diwariskan turun-temurun sejak malaikat menaruh rasa iri hati kepada manusia ciptaan Tuhan yang diberi rahmat dan kemuliaan yang hampir setara dengan Sang Pencipta. Malaikat tersebut menyombongkan dirinya, ingin duduk di tahta Allah dan ingin setara dengan Kebenaran yang sejati, sampai akhirnya ia diusir dari hadiratNya dan kita kenal sebagai iblis (the fallen angels) sekarang ini. Yang kedua, kepentingan diri sendiri atau egois (selfish ambition). Sikap ini masih sangat berhubungan dengan iri hati. Kepentingan diri sendiri-lah yang membuat seseorang tidak pernah puas dan menjadi haus kekuasaan. Yang terpenting adalah kejayaan diri sendiri, tak peduli walau jika harus dengan mengorbankan dan menginjak-injak martabat orang lain. Lagi-lagi, sikap egois ini sangat identik dengan iblis, yang begitu bernafsu menyamai Allah Sang Pencipta.

Sikap iri hati dan egois ini sebenarnya telah sejak lama dinubuatkan dalam Kitab Suci ketika Yakobus berkata:

Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. (Yakobus 3:16)

Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. (Yakobus 4:1-2)

Selain itu, Paulus, seorang rasul yang dulunya adalah salah satu dari para kaum religius Yahudi yang telah menyiksa umat Tuhan, namun justru telah menjadi saksi Kebenaran setelah Allah menampakkan diri kepadanya, berkata dengan sangat jelas:

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1 Timotius 6:10).

Uang adalah simbol kekuasaan di zaman ini. Manusia mencintai uang karena mereka haus kekuasaan. Dalam kekuasaan itu, mereka berada di posisi yang tinggi untuk memerintah dan mengendalikan orang lain. Tanpa disadari, mereka sedang ingin menjadi ‘Tuhan’ bagi sesamanya sendiri. Dengan mencintai uang, mereka sesungguhnya sedang ingin menyamai Allah. Yesus dengan sangat tegas menolak roh cinta uang:

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Lukas 16:13).

Lalu, bagaimana memutuskan rantai kutuk yang telah terlanjur menjerat kehidupan manusia ini? Manusia membutuhkan sosok penyelamat, suatu kekuatan supranatural yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri. Let everyone shouts “Save me from myself!”. Jawabannya bukanlah agama, melainkan Pribadi. Dia telah datang ke dunia tanpa membawa ’embel-embel’ atau atribut agama tertentu. Dia datang untuk membawa pemulihan bagi hubungan manusia dengan Tuhan yang telah rusak. Dialah Sang Juru Selamat umat manusia. Simak selengkapnya di 7 Reasons to Believe in Jesus, Menemukan Jalan Kebenaran dari Kisah Pelacur, dan Benarkah Yesus adalah Tuhan?

Referensi: