Mengapa Saya Tertarik Apologetika

Peran keluarga sangat besar dalam menentukan iman atau keyakinan seseorang. Faktanya, sebagian besar orang menganut suatu agama atau kepercayaan dengan mewarisi iman atau ajaran orang tuanya. Bisa dikatakan bahwa, pada umumnya, agama yang diyakini oleh seseorang adalah hasil pilihan orang tuanya. Jika seseorang terlahir dalam keluarga Kristen, maka biasanya ia juga akan mengadopsi iman Kristen sejak kecil hingga tumbuh dewasa, sampai kemudian ia pun akan mewariskan lagi iman yang sama kepada generasi berikutnya. Demikian halnya untuk agama atau kepercayaan yang lain (Islam, Katolik, Budha, Hindu, dll.). Ini adalah contoh kasus yang lazim (mainstream) dan saya yakin pembaca pun telah menyadari hal ini.

Namun, seiring berkembangnya pola pikir atau cara pandang seseorang, ditambah banyaknya pengaruh lingkungan yang diterimanya seiring pertumbuhannya, maka sangat mungkin seseorang mengalami ‘konversi’ dari suatu keyakinan tertentu ke keyakinan lainnya. Motivasinya pun beragam, dari yang sederhana hingga yang kompleks. Saya tidak bisa men-judge di sini, tapi setidaknya dari yang saya ketahui, orang-orang memutuskan untuk beralih keyakinan karena didasari, misalnya oleh rasa cinta terhadap seseorang (dan/atau hartanya, mungkin), rasa kecewa terhadap sesama penganut keyakinan sebelumnya, ketidakpuasan terhadap keyakinan sebelumnya, dsb.

Saya sendiri berpendapat bahwa motivasi yang benar (seharusnya) didasari oleh rasa haus akan kebenaran sejati, dari hati yang tulus. Isu agama, tidak dapat dipungkiri, adalah isu yang sangat sensitif dan cenderung membawa pemisahan daripada persatuan. Hal ini dikarenakan, secara natural, masing-masing agama memiliki perbedaan ajaran yang substansial dan, secara alamiah pula, manusia (pemeluk agama) memiliki kecenderungan untuk mengklaim bahwa “kecapku-lah yang nomor satu” atau “rumputku-lah yang paling hijau”. Jadi, sangat wajar bila setiap agama dan pemeluknya akan mengklaim bahwa keyakinannya adalah kebenaran yang sejati. Namun, benarkah semua agama atau keyakinan merupakan kebenaran sejati, jika kenyataannya mereka saling berkontradiksi (tidak saling sepakat) satu sama lain. Apakah mungkin nilai-nilai yang saling berkontradiksi semuanya benar?

Di sinilah saya ingin berbagi pengalaman melalui tulisan ini. Hal ini tentu tidak menyiratkan bahwa pengetahuan saya sudah lengkap atau keyakinan saya sudah sempurna. Saya dulu bersekolah di SMP dan SMA negeri di kampung halaman saya (kota Kudus) dan saya sudah terbiasa dengan perbedaan, menjadi kaum minoritas, dan beberapa kali saya juga pernah berdiskusi bahkan berdebat dengan teman-teman Muslim tentang keyakinan kami masing-masing. Saya berteman dengan cukup banyak orang hingga hari ini, mulai dari yang berbeda keyakinan sampai dengan yang tidak berkeyakinan (atheis). Tentu, tidak dalam semua hal saya sependapat dengan keyakinan (atau ketidakyakinan) mereka, namun saya tetap menghormati mereka. Prinsipnya, kita boleh berbeda pendapat atau keyakinan secara tajam, namun kita tetap bisa berteman baik dan saling menghargai tanpa mengorbankan prinsip.

Walaupun saya dilahirkan di keluarga Kristen, namun sejak kecil hingga tumbuh remaja, saya merasakan pergumulan yang begitu kuat dalam hati. Banyak pertanyaan serta keraguan di benak saya (termasuk pada keyakinan saya sendiri), terlebih karena saat itu saya berada di lingkungan yang mayoritas warganya berbeda dengan saya, baik secara etnis maupun keyakinan. Sampai saya pun pernah berpikir, “Apakah mayoritas pasti selalu benar? Bagaimana jika saya menganut keyakinan yang berbeda dari yang dianut oleh keluarga saya? Apakah mereka akan bisa menerima? Jika saya ingin diterima oleh teman-teman, apakah saya harus berkeyakinan yang sama dengan mereka?”, dll. Pemikiran-pemikiran semacam ini sempat cukup mengganggu pada awalnya, namun akhirnya justru mendorong saya untuk berpikir lebih dalam lagi apakah saya sudah teguh dengan keyakinan sendiri.

Semasa remaja hingga mahasiswa, saya sangat menyukai diskusi rohani. Saya senang belajar dari guru agama maupun teman-teman seiman dan yang berbeda iman. Dan anehnya, saya justru sering tertidur ketika nonton film di bioskop, tapi tidak ngantuk sama sekali ketika mendengarkan khotbah di gereja. Bagi orang lain mungkin hal ini tidak wajar, dan saya pun sadar tidak semua orang cocok dengan karakter saya ini. Kadang saya dianggap sok rohani, kaku, dan tidak easy-going, mungkin. Namun saya sadar, mustahil menyenangkan semua orang, dan saya tidak ingin membohongi diri sendiri dengan memerankan karakter yang bukan diri saya. Beberapa orang mungkin tidak terlalu tertarik membicarakan iman dan hal-hal rohani lainnya, karena menurut mereka wilayah keimanan adalah hal yang sangat pribadi dan tidak perlu digembar-gemborkan. Beberapa orang juga mungkin menganggap bahwa diskusi rohani itu abstrak, mengawang-awang, dan dapat memicu konflik. Saya memahami dan menghargai pendapat mereka, namun saya juga tidak harus menjadi identik dengan mereka bukan? Saya sendiri berkeyakinan bahwa, sesuai ajaran Yesus, membangun iman harus seperti membangun rumah di atas fondasi yang kokoh, yaitu batu, bukan pasir; sehingga tetap kuat dan tidak roboh ketika gelombang badai kehidupan datang. Dari sinilah saya mulai tertarik pada apologetika.

Banyak definisi apologetika yang bisa pembaca temukan di internet. Dengan kalimat sendiri, saya mendefinisikan apologetika sebagai “suatu disiplin atau ilmu yang berkaitan dengan usaha membela atau mempertahankan suatu keyakinan, teori, atau doktrin”. Dalam praktiknya, seringkali apologetika berhubungan dengan ilmu agama, namun saya memahami bahwa prinsip apologetika juga dapat diterapkan dalam cabang ilmu yang lain (sains, hukum, dll.); artinya ketika seorang mahasiswa sedang men-defense argumen atau hipotesa-nya di hadapan para profesor penguji, pada dasarnya ia sedang ‘berapologetika’. Saya menyukai theologi (ilmu tentang Tuhan) dan apologetika, meskipun saya tidak memiliki latar belakang pendidikan theologi. Dan saya pun berpendapat bahwa setiap orang, terutama yang mengaku rasional dan intelektual (terpelajar), harus mampu berapologetika. Yang saya maksud ‘terpelajar’ di sini bukan saja orang yang memiliki gelar akademis, melainkan juga termasuk orang yang belajar secara otodidak sekalipun ia tidak pernah lulus sekolah formal, misalnya. (Karena saya percaya gelar akademis tidak serta-merta menjamin pengetahuan dan kemampuan nalar yang lebih baik). Jadi intinya? Setiap orang, yang jiwanya masih sehat, harus mampu berapologetika. Kita perlu memiliki dasar mengapa kita meyakini suatu hal. Semakin kuat dasar yang kita miliki, semakin mudah kita akan menjelaskannya pada orang lain.

Tentu di luar sana banyak tokoh apologetika yang luar biasa. Mereka memiliki daya ingat yang hebat dan mampu menghafal teks-teks kitab suci di luar kepala. Mereka adalah profesional yang mendedikasikan waktu dan tenaganya dalam bidang ini. Sementara saya bukanlah seorang full-timer yang menekuni apologetika, namun prinsip apologetika ini juga dapat saya terapkan pada bidang keilmuan yang saya geluti saat ini. Menurut iman Kristen, saya menemukan sedikitnya ada tiga alasan yang mendasari ketertarikan saya pada apologetika:

1. Akal budi adalah anugerah Tuhan dan harus dipergunakan untuk mengekspresikan kasih kita kepada-Nya.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Lukas 10:27)

Akal budi (nalar), sama halnya dengan hati, jiwa, dan kekuatan, adalah anugerah Tuhan. Bahkan, akal budi inilah yang menjadikan manusia paling istimewa diantara makhluk ciptaan lainnya (binatang dan tanaman). Salah satu cara untuk mengenal Tuhan adalah dengan menggunakan akal budi yang telah Ia berikan. Memang, terkadang kita tidak bisa selalu mengandalkan pemikiran (rasionalitas) sendiri karena akal budi manusia terbatas, namun menjalani sesuatu tanpa pengertian yang benar juga tidak akan membawa hasil yang maksimal. When ‘why’ is strong, the ‘how’ becomes easyLet the thinkers believe and let the believers think. Dalam mengasihi Tuhan, selain percaya penuh dalam hati, kita juga perlu mempergunakan akal budi yang telah diterangi oleh kebenaran Firman-Nya.

2. Kita harus bertanggungjawab pada apa yang kita yakini dan mampu menjelaskan pengharapan apa yang kita miliki.

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” (1 Petrus 3:15-16)

Terjemahan bahasa Inggris nya mengatakan:

“But in your hearts honor Christ the Lord as holy, always being prepared to make a defense to anyone who asks you for a reason for the hope that is in you; yet do it with gentleness and respect, having a good conscience, so that, when you are slandered, those who revile your good behavior in Christ may be put to shame.” (1 Peter 3:15-16)

Artinya, saat kita mampu mempertahankan keyakinan dan menjelaskan pengharapan yang kita miliki dari keyakinan tersebut, kita sedang memberikan penghormatan pada Kristus. Tapi tentu saja cara kita ‘berapologetika’ juga penting untuk diperhatikan, yaitu harus dengan lemah lembut, penuh hormat, dan didasari oleh hati nurani yang murni (tidak ada motif terselubung, misalnya demi kepentingan atau keuntungan pribadi). Ketika orang mempertanyakan iman kita, maka kita perlu menjawab dari dua sisi: ‘mengapa’ (defense) yaitu alasan kita percaya, dan ‘untuk apa’ (hope) yaitu tujuan kita percaya. Dalam hal ini, alasan saya percaya pada Yesus, at least, adalah karena Ia telah terlebih dulu mengasihi saya dan mengampuni segala dosa kesalahan yang telah saya buat, seperti yang telah dinyatakan dalam Firman-Nya; sedangkan tujuan saya percaya pada Yesus, at least, adalah untuk semakin mengenal dan mengalami kuasa kebangkitan-Nya. Kebangkitan Yesus adalah jawaban dan penghiburan bagi ketakutan terbesar manusia, yaitu penderitaan dan kematian. Seandainya Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kepercayaan kami kepada-Nya (1 Korintus 15:17), tidak ada pengharapan hidup di dunia ini karena pada akhirnya semua akan binasa, dan yang tidak kalah penting, hal ini dapat mengindikasikan bahwa Sang Pencipta adalah “Allah yang cuek, bersikap masa bodoh terhadap pergumulan manusia, nyaman dengan tahta surgaNya, dan tidak mau berkorban turun ke dunia ‘menjangkau’ umatNya.”

3. Semangat untuk menyelidiki dan membuktikan kebenaran yang sejati.

“Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.” (Kisah Para Rasul 17:11)

Di zaman para rasul, yang hidup di periode waktu yang dekat dengan masa kehidupan Yesus, diceritakan bahwa orang-orang Yahudi memiliki passion untuk menyelidiki Kitab Suci (mungkin Taurat, Mazmur, dan catatan sejarah sebelumnya) setiap hari! Bayangkan, setiap hari! Artinya, mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, begitu haus akan kebenaran sejati. Jadi saya membayangkan bahwa di masa itu mereka tidak gampang menerima suatu berita tanpa membuktikan kebenarannya. Mereka tidak mudah ditipu dan terpancing emosinya mendengar berita palsu (hoax). Menurut saya, mungkin saja semangat jiwa orang Yahudi inilah yang diwariskan turun-temurun, sehingga sekarang kita bisa melihat fakta bahwa orang-orang hebat di dunia teknologi kebanyakan berlatar belakang Yahudi. Jadi saya meyakini ada keterkaitan antara kecerdasan intelektual dengan semangat mempelajari Kitab Suci. Hal ini diaminkan oleh Raja Daud, yang menyatakan bahwa mempelajari Taurat membuatnya lebih pandai dan bijaksana daripada musuh-musuh, bahkan gurunya! (Mazmur 119:97-100). Di era teknologi internet sekarang ini, kita telah diberi kemudahan untuk mencari informasi kapanpun di manapun berada. Masyarakat, yang memiliki akses internet, seharusnya sudah lebih pintar dan bijaksana dalam membedakan mana (informasi) yang sesat dan mana yang akurat. Sudah bukan zamannya lagi kita dibodohi oleh oknum yang mengatasnamakan Tuhan demi meraih simpati dan kekuasaan. Setiap orang pun bisa melakukan survey atau riset sendiri, sehingga kita pun bisa sadar jika misalnya ada informasi salah yang telah kita yakini selama ini; tidak hanya dalam hal agama, tapi juga dalam bidang kehidupan lain, misalnya gaya hidup sehat, cara bermain alat musik yang baik dan benar, sejarah peradaban manusia, dll. Dan jika memang apa yang kita yakini selama ini ternyata terbukti salah, maka kita pun harus berani mengambil langkah tegas untuk melakukan ‘konversi’! Tidak perlu gengsi demi sebuah reputasi. The real truth is worth dying for. Untuk itulah, setiap orang punya hak untuk didengar dan, oleh karenanya, setiap orang memiliki kesempatan untuk berapologetika.

Vancouver, 13 April 2017

Advertisements