Ketika Aku Merenungkan Arti Hidup Ini

Terlahir di dunia, kita tak bisa memilih… di mana dan bagaimana kita dilahirkan, siapa yang melahirkan kita, apa warna kulit kita, apa yang menjadi panutan atau keyakinan kita… Begitu banyak hal yang tetap menjadi misteri bagi kita hingga hari ini, mungkin sampai kapanpun tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan seluruhnya… siapa nenek moyang kita, dari mana kita berasal… mengapa kita ada di sini sekarang… ke mana arah tujuan kita dalam menjalani hidup ini… siapa yang tahu pasti?

Hidup ini indah… Banyak orang berkata demikian… Namun, tak sedikit juga orang yang menganggap hidup ini menyedihkan… penuh tantangan dan pencobaan… sarat dengan ujian iman… Peperangan antara baik dan jahat ada dalam diri setiap insan… Di saat kita ingin melakukan yang baik, si jahat melakukan perlawanan dalam diri kita… Terkadang, bahkan seringkali, yang baik tidak selalu menang dan yang jahat tidak selalu sial… Ketidakadilan yang terasa pahit… Benarkah hidup itu indah? Apa yang bisa kita lakukan? Masih adakah pengharapan?

Tetaplah bersyukur dan percaya di saat badai pencobaan datang dalam hidup kita… Penderitaan, kesukaran, ketidakadilan menyadarkan kita akan kefanaan dunia ini… karena itu, jangan tambatkan hati kita pada perkara-perkara duniawi… jangan cintai dunia dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya… semuanya, cepat atau lambat, akan segera berlalu…

Tetaplah bersyukur dan percaya di saat tubuh kita lemah tak berdaya… Penyakit, keletihan, kelemahan di tubuh kita mengingatkan betapa fananya tubuh jasmani ini… karena itu, jangan jerat hati kita dengan perkara-perkara jasmani… jangan cintai tubuh kita dan mempergunakannya untuk mengejar harta dunia… semuanya, cepat atau lambat, akan segera berlalu…

Ketika aku melihat keindahan alam… gunung-gunung yang menjulang, lautan samudra yang luas membentang, pelangi warna-warni di langit biru, dan pepohonan hijau yang menyejukkan hati… aku merasa betapa kecilnya diri ini di hadapan Sang Pencipta… Lalu kutertegun bertanya dalam hati, “Berapa lama lagi aku bisa menyaksikan semua keindahan ini? Mungkinkah kesejukan, kedamaian, dan kebahagiaan ini kunikmati untuk selamanya?”

Ketika aku melihat kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi ciptaan manusia, gedung pencakar langit dan bangunan-bangunan dengan arsitektur yang megah… aku merasa betapa masih bodohnya diri ini di hadapan Sang Pencipta… Dan kutertegun bertanya dalam hati, “Di antara sekian banyak teknologi yang canggih itu, adakah satu saja yang bisa membuatku hidup selama-lamanya? Adakah di antara mereka yang mampu mencegah kematian pada diriku?”

Dengan kemajuan teknologi, orang-orang berkerumun dan berlalu lalang setiap hari, berusaha untuk ‘mengabadikan’ setiap momen dalam hidup mereka… kejadian demi kejadian, serta pemandangan yang mereka lihat di sekeliling mereka… musim silih berganti menambah indahnya hari… namun, semua itu hanya tinggal kenangan untukku hari ini… dan aku sadar, hari ini pun akan tinggal kenangan bagiku di esok hari… tak ada yang abadi…

Saat aku sedang lapar, kubuka beberapa makanan kemasan yang ada di kotak persediaan… ketika kuamati satu per satu, semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu tanggal kadaluarsa… aku jadi teringat akan hidup manusia… setiap kita juga memiliki ‘tanggal kadaluarsa’, setiap hubungan antarmanusia pun juga… orang datang dan pergi dalam hidup ini tanpa kita tahu pasti waktunya… tak ada yang abadi…

Sesungguhnya tidak layak aku membanggakan diri atas apa yang telah kuraih selama ini… Apa yang kudapat, apa yang kucapai, semuanya berasal dari Sang Pencipta, bukan dari hasil jerih payahku semata… Bukan aku yang hebat, bukan… Ia mengirimkan orang-orang untuk membantu perjuanganku, menegur kesalahanku, mengingatkan janji-janji yang pernah kubuat… Tapi… tidak semua dari mereka terus tinggal bersamaku saat ini… Banyak yang akhirnya pergi tanpa mungkin pernah kembali lagi… Aku pun sadar bahwa mereka juga manusia ciptaanNya… ini menegaskan bahwa keabadian hanya milik Sang Pencipta…

Lalu untuk apa orang-orang berebut kuasa, jika setiap kuasa di dunia memiliki tanggal kadaluarsa? Untuk apa kita saling iri dan dengki saat melihat orang lain berprestasi? Bukankah semua yang telah mereka raih itu tidak selamanya ada bersama-sama dengan mereka? Untuk apa kita menambahkan rasa sakit di badan ini, di jiwa ini… dengan saling membenci saat melihat orang lain begitu berambisi? Bukankah semua yang mereka ingin gapai, yaitu harta, tahta, dan cinta, tak ada satu pun yang mereka bawa mati?

Dunia ini bukanlah tempat tinggal yang layak bagi kita… mungkin itulah sebabnya mengapa kita menangis ketika terlahir di dunia ini… ada tempat tinggal yang jauh lebih baik, indah, dan mulia yang sudah disediakan oleh Sang Pencipta, bagi kita yang mengasihiNya… menghabiskan waktu bersamaNya setiap saat… di dalam kedamaian, sukacita, dan kasih sayangNya… dalam keabadian… karena kutahu bahwa ada kekekalan di hati setiap manusia… kita semua merindukan kekekalan, mendambakan keabadian… dan… itu semua hanya bisa didapatkan di dalamNya, bukan di dalam dunia…

Renungan malam,

Vancouver, 11 Mei 2017

Advertisements

Indonesia Harus Belajar dari Ahok

Orang bijak selalu bisa belajar dari pengalaman orang lain. Saat ini, Indonesia sedang mengalami proses pembelajaran yang begitu keras, menguras jiwa raga. Gara-gara satu orang ‘pendobrak’ yang berani (baca: diberikan keberanian oleh Tuhan) untuk pasang badan, mempertaruhkan nyawanya demi masa depan Indonesia. Orang itu adalah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pak Ahok adalah pahlawan bagi orang-orang yang selama ini sudah lelah dan muak (dengan sistem birokrasi yang korup), tapi tidak berani menyuarakan aspirasinya. Mengapa pembelajaran ini begitu penting? Karena masa depan bangsa ini akan menjanjikan jika masyarakatnya mampu berpikir bijak, rasional, dan progresif, bukan regresif.

Sejauh ini, Pak Ahok sudah memberikan standard moral yang tinggi dan pelajaran penting bagi kita warga Indonesia (paling tidak bagi saya pribadi). Sejauh pengamatan saya, sedikitnya ada lima nilai atau pelajaran penting yang bisa kita pelajari dari sosok Pak Ahok yang fenomenal ini:

1. Jangan cinta uang, karena cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (termasuk di dalamnya cinta kekuasaan dan kenikmatan duniawi). Sadarlah, kekuasaan dan kenikmatan duniawi itu semuanya sementara! Tidak akan kita bawa mati. Di mana hartamu berada, di situlah hatimu berada. Jika kita selalu bernafsu mengejar harta duniawi, tidak heran sampai kapan pun kita tidak akan pernah puas dan selalu cemburu, iri hati dengan harta atau pencapaian orang lain. Jadi, arahkan hati kita bukan pada hal-hal yang kelihatan (fisik, materi), melainkan pada hal-hal yang tak kelihatan (pengabdian, kejujuran, integritas, ketulusan, ketegasan, kebesaran hati, dan nilai-nilai moral agung lainnya). Mengapa? Karena hal-hal yang kelihatan itu sementara, tapi yang tidak kelihatan itu kekal. Itu ‘modal’ yang akan menentukan apakah kita akan menghabiskan kekekalan bersama Pencipta di surga atau bersama si perusak di neraka kelak. Karena ketidakcintaan-nya pada uang inilah, Pak Ahok berani menerapkan transparansi sistem pembuktian harta pejabat publik dan menolak gratifikasi. Tidak heran jika akhirnya Pak Ahok mendapatkan penghargaan sebagai tokoh anti-korupsi di Indonesia.

2. Miliki integritas, jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak. Jangan pernah takut selama kita benar. Jangan bohongi nuranimu. Memang hal ini akan menyebabkan banyak orang membenci kita, karena kita tidak mau berkompromi sedikitpun. Tapi ingatlah, bahwa pada akhirnya, hidup kita adalah untuk Tuhan, bukan untuk mencari pujian atau persetujuan manusia. Yang berhak menilai adalah Tuhan, apakah kita sudah bertanggungjawab terhadap hidup, yang hanya sekali saja, yang telah Ia anugerahkan di dunia ini. Integritas ini juga tentu setali tiga uang dengan kejujuran. Karena itu, jika kita mengaku pendukung Ahok, maka di tempat kerja kita juga harus jujur. Jangan makan uang teman. Jangan menggunakan jabatan/kekuasaan untuk keuntungan pribadi. Di sekolah, bagi yang masih belajar, jangan nyontek saat ujian. Jangan ngutang sama teman tapi tidak mau bayar. Jangan berbuat curang pada teman. Kecurangan yang kecil adalah cikal-bakal korupsi. Mulailah setia pada hal-hal kecil, bertanggungjawab pada harta orang lain sekecil apapun, supaya kita juga bisa setia jika kelak diberi kepercayaan untuk mengurus hal-hal yang besar.

3. Disiplin dalam bekerja. Saya masih terheran-heran bagaimana Pak Ahok bisa begitu kuat secara fisik dan mental, setiap hari datang ke Balai Kota dari pagi jam 7:30 melayani keluhan warga satu per satu tanpa pandang suku, agama, kondisi ekonomi, dll. di tengah persoalan kasus penodaan agama dan berbagai fitnah lain yang sedang dihadapinya. Bekerja dari pagi (saat yang lain mungkin masih tidur) hingga malam (saat yang lain mungkin sudah tidur) tanpa kenal lelah. Mengapa bisa? Saya percaya karena Tuhan-lah yang menjadi sumber kekuatan Pak Ahok setiap hari. Karena etos kerjanya yang disiplin dan profesional inilah, para pembencinya kesulitan mencari ‘celah’ untuk menyalahkan Pak Ahok. Karena kedisiplinan inilah Pak Ahok berani bersikap tegas. Waktu kuliah dulu, saya ingat dosen saya pernah bilang, “Indecisive is crime“. Jika sebagai pemimpin kita tidak bisa tegas dan gesit dalam mengambil keputusan, maka rakyat-lah yang akan menderita dan menanggung akibatnya. Kebanyakan, yang saya ketahui, pemimpin tidak bisa tegas karena ia ingin menyenangkan (dan disenangi) semua orang. Ia terjerat oleh berbagai kepentingan orang-orang di sekitarnya. Apalagi, khususnya dalam budaya Jawa, seringkali kita terjebak oleh perasaan sungkan, basa-basi, dan takut menyakiti perasaan orang lain, yang dikemas dengan label “sopan-santun”. Indonesia perlu pemimpin seperti Pak Ahok. Beliau sudah menang atas dirinya sendiri, beliau sudah ‘mati’ bagi kepentingan dirinya sendiri.

4. Kerendahan hati yang diwujudkan dalam pengabdian. Memang, orang bisa saja iri ketika melihat sosok Pak Ahok yang tinggi, gagah, cakap, dan berwibawa. Orang mungkin mempermasalahkan warna kulitnya, bentuk matanya, dan nada bicaranya. Lagi-lagi, yang dipersoalkan adalah hal-hal fisik yang sifatnya sementara. Padahal, jika jeli mengamati gesture (bahasa tubuh) Pak Ahok, terutama saat berinteraksi dengan masyarakat sederhana, saya menilai bahwa beliau adalah orang yang apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak munafik. Beliau sudah selesai dengan dirinya sendiri. Tak peduli orang mau bilang apa, selama yakin benar, beliau akan berjuang. Kata-kata kasar yang kadang muncul, tidak bisa dijadikan patokan untuk menihilkan kerendahan hatinya. Justru hal itu menunjukkan bahwa Pak Ahok tahu kapan harus marah, kapan harus lembut. Beliau tidak memaksakan dirinya untuk harus memakai ‘topeng’ sopan-santun dan keramah-tamahan setiap waktu; menampilkan karakter yang bukan dirinya. Tak berlebihan jika beliau mengibaratkan dirinya sebagai anjing penjaga tuannya, yaitu anjing yang galak dan menakutkan pada maling yang hendak merampok harta tuannya; tapi di sisi lain, kalau saya boleh menambahkan, beliau juga ibarat anjing yang lucu, menyenangkan, setia dan ramah pada tuannya. Yang tak kalah penting, ketika melakukan kesalahan, Pak Ahok tidak malu atau gengsi untuk minta maaf. Seorang pemimpin yang sulit mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah pemimpin yang belum selesai dengan dirinya sendiri, karena ia masih terjerat oleh harga dirinya. Pak Ahok (bersama Pak Djarot) tetap berpegang pada prinsip “tetap melayani sekalipun dicaci dan dibenci”. Mereka telah mengabdi, selama 3 tahun ini, pada masyarakat Jakarta, yang sebagian besar justru menolaknya.

5. Iman yang dimanifestasikan dalam keberanian. Saya jadi semakin mengerti arti kata passion setelah menyaksikan kiprah dan kinerja Pak Ahok selama ini. Belum pernah sebelumnya saya melihat orang yang begitu berapi-api, seolah-olah ada ‘kemarahan’ yang begitu besar dalam dirinya atas segala kemunafikan dan ketidakadilan yang terjadi di bangsa ini. Mungkin kita sudah sering ditanya, “Apa passion-mu? Apa cita-citamu? Apa panggilan hidupmu?” Dulu, saya rasa tidak mudah menjawab pertanyaan ini, tapi sekarang, setelah melihat Pak Ahok, saya sadar apa arti sebuah passion. Apa yang membuat hatimu bergetar, seolah ada api yang menyala di dalam jiwamu, yang tak tertahankan lagi, tak bisa dihalangi atau dialihkan oleh apapun. Passion adalah semangat jiwa, yang membuat kita fokus akan tujuan, dan benar-benar tulus sepenuh hati ingin mewujudkannya. Tentu, sama seperti api yang bisa menghangatkan atau membakar, passion juga bisa bermanfaat atau malah merugikan. Karena itu, pastikan bahwa passion kita tidak diarahkan pada hal-hal yang jahat/salah, seperti keserakahan, hawa nafsu, kebencian, dsb. Fondasi dari passion kita haruslah takut akan Tuhan dan keberanian untuk ‘mati’ bagi diri sendiri. Jelas, saya melihat bahwa Pak Ahok adalah sosok yang memiliki passion untuk mengadministrasi keadilan sosial dengan bekerja sepenuh hati, melayani dan mengabdi pada masyarakat. Beberapa kali beliau dengan tegas menyatakan tidak takut mati, siap menghadapi konsekuensi apapun dan mempertaruhkan nyawanya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa beliau sepenuhnya beriman, bersandar pada Tuhan dalam menjalani panggilan hidupnya. Tidak perlu kuatir menjalani hidup, tidak perlu kuatir akan kematian, karena kekuatiran tidak menambahkan umur panjang dan hidup-mati seseorang ada di tangan Sang Pencipta. Bahkan, Pak Ahok juga sempat-sempatnya nge-joke, “Mati adalah keuntungan, seenggaknya kalian tidak lihat foto wajah tua saya.” Beliau juga meyakini bahwa kekuasaan adalah sepenuhnya milik Tuhan, “Kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan yang ambil.” Sungguh mengagumkan, tak bisa dinalar. Kita, yang masih sering takut mati, harus belajar banyak dari Pak Ahok, dari imannya, dari passion-nya, dari keberaniannya.

Indonesia, belajarlah dari Pak Ahok.

Foto diadopsi dari laman Facebook Basuki Tjahaja Purnama

Vancouver, 9 Mei 2017

Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak dimaksudkan untuk mewakili pandangan, keyakinan, atau ideologi dari institusi manapun.