Saya Manusia Sebagai ‘Benda’ Ciptaan

Ada sebuah pertanyaan yang sangat mendasar dan harus saya jawab sebagai manusia. Pertanyaan ini akan menentukan bagaimana cara saya memandang dan menjalani kehidupan. Kegagalan dalam memahami esensi dari pertanyaan ini akan mengakibatkan saya memperlakukan hidup ini dengan sia-sia. Sebaliknya, keberhasilan dalam memahami esensi dari pertanyaan ini akan membangkitkan semangat saya untuk menjalani hidup dengan penuh arti. Karena sesungguhnya hidup adalah anugerah yang indah dan mulia.

Pertanyaan tersebut adalah: “Apakah saya percaya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa?” Jika saya percaya, maka secara otomatis saya juga meyakini keberadaan Sang Pencipta, yang juga telah menciptakan alam semesta dan segala isinya. Namun, jika saya tidak percaya, maka saya akan dihadapkan pada rangkaian pertanyaan berikutnya yang tidak akan pernah habis dan terus mengusik nurani saya: “Dari mana saya berasal?”, “Apa tujuan saya hidup?”, “Ke mana saya akan pergi setelah meninggal?”, “Siapa yang mengatur jagat raya dan alam semesta ini?”, dan seterusnya. Saya akan terus dikejar oleh pertanyaan-pertanyaan kritis yang membutuhkan jawaban atau penjelasan yang tidak akan pernah cukup untuk memuaskan rasionalitas dalam otak saya yang ukurannya tidak lebih besar dari bola yang disepak dan dipermainkan orang di atas lapangan hijau.

Syukurlah, saya termasuk orang yang percaya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan paling indah dan mulia yang telah ‘dilahirkan’ dari nafas Sang Khalik, kreator yang maha jenius, yang telah menghasilkan karya cipta manusia yang tak terhitung banyaknya dan istimewa, karena dari antara semua manusia ciptaan-Nya tidak ada satupun yang sama persis dengan yang lainnya.

Jika manusia adalah makhluk yang diciptakan (atau dalam istilah biologi disebut “benda hidup”), maka pasti ada maksud/alasan dan tujuan ia diciptakan, yang mana hanya Sang Pencipta-lah yang tahu dan mampu memberikan jawabannya. Dengan demikian, saya juga harus memahami mengapa dan untuk apa saya diciptakan oleh-Nya. Saya ingin tahu jawabannya, karena itulah saya harus bergaul (membangun hubungan) dengan Dia. Mengapa saya diciptakan? Karena Sang Pencipta ingin menunjukkan kasih-Nya kepada saya. Untuk apa saya diciptakan? Agar saya bisa menunjukkan kasih yang telah ditunjukkan-Nya kepada saya.

Sebagai ‘benda’ ciptaan, ada tiga kesamaan yang seharusnya juga menjadi ciri yang dimiliki oleh manusia, jika dibandingkan dengan barang-barang ciptaan lainnya:

1. Semua barang ciptaan memiliki pedoman (manual).

Selalu ada pedoman di semua barang yang saya beli: dari pakaian (baik kaos maupun celana) hingga laptop. Di bagian dalam pakaian, ada sepotong kain kecil yang ditambatkan: dari sana saya akan tahu berapa ukuran pakaian tersebut, di mana pakaian tersebut dibuat, serta bagaimana memperlakukan pakaian tersebut: apakah sebaiknya dicuci dengan tangan (handwash) atau mesin, apakah boleh disetrika, dikeringkan, dijemur, dll. Ada hal-hal yang harus atau tidak boleh dilakukan sehingga pakaian tersebut tidak cepat rusak dan memiliki lifetime yang panjang. Saat membeli laptop, saya juga akan mendapatkan manual book yang berisi petunjuk informasi tentang bagian-bagian laptop tersebut, bagaimana cara mengisi baterai yang benar, bagaimana cara mengoperasikan: dari menyalakan hingga mematikan laptop tersebut dengan benar, dll. Ada hal-hal yang harus atau tidak boleh dilakukan sehingga laptop tersebut dapat berfungsi dengan baik, tidak cepat rusak, dan berumur panjang. Intinya: saya tidak bisa sembarangan saja memperlakukan pakaian dan laptop saya jika tidak ingin mereka mengalami ‘kehancuran’ yang akhirnya akan membawa mereka ke tempat pembuangan sampah. Demikian juga sebagai manusia yang diciptakan, saya tidak bisa sembarangan saja menjalani kehidupan: ada hal-hal yang harus atau tidak boleh saya lakukan jika saya benar-benar bersyukur dan mencintai hidup ini. Bagaimana saya tahu hal-hal apa saja yang harus atau tidak boleh saya lakukan tersebut? Ada 2 cara yang mungkin: (1) saya harus bergaul/berkomunikasi dengan Pencipta saya, (2) saya harus membaca, merenungkan, dan memahami buku petunjuk yang telah diciptakan-Nya mengenai saya: Kitab Suci itulah manual book saya.

2. Semua barang ciptaan dipakai hanya saat diperlukan.

Beranekamacam barang yang saya miliki memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Mustahil bagi saya untuk memakai semua barang tersebut di waktu bersamaan. Saat saya ingin pergi ke acara pernikahan teman, saya akan memakai pakaian formal (setelan jas) dan sepatu vantofel. Namun, saat saya ingin tidur, saya akan lebih memilih piyama dan tidak mungkin memakai setelan jas. Sepatu vantofel saya tidak bisa protes dan sakit hati karena tidak saya pakai untuk tidur. Sang piyama pun juga tidak bisa mengeluh karena tidak saya pakai di pesta pernikahan. Bukan berarti saya melupakan atau tidak menghargai sepatu vantofel atau piyama saya jika mereka tidak sedang ingin saya pakai. Demikian juga sebagai manusia yang diciptakan, saya tidak berhak marah dan percuma saja saya sakit hati saat ada orang lain yang ‘memakai’ saya untuk tujuan mereka. Seringkali ada orang-orang yang datang kepada saya hanya saat mereka butuh bantuan saja. Setelah terpisahkan oleh jarak, mereka seolah-olah hilang begitu saja dan tidak peduli lagi akan keberadaan saya. Untungnya, saya telah belajar dan sadar bahwa saya memang adalah manusia yang ‘dipakai’ hanya saat diperlukan, sehingga saya tidak perlu dendam atau menyimpan sakit hati. Saya justru bangga dan bersyukur karena telah menjadi lilin yang menyala di tengah kegelapan dan muncul di pikiran orang-orang yang telah ‘memakai’ saya ketika pertama kali mereka menghadapi masalah. Selain itu, saya juga tidak layak untuk marah jika Sang Pencipta belum ‘memakai’ saya untuk tujuan-Nya, ataupun iri hati ketika melihat Sang Pencipta lebih memilih untuk ‘memakai’ orang lain dalam rencana-Nya. Saya harus percaya bahwa Sang Pencipta telah menciptakan saya untuk tujuan-Nya yang unik dan spesifik dalam rencana-Nya yang indah dan mulia.

3. Semua barang ciptaan tidak diciptakan untuk dirinya sendiri.

Tidak ada barang yang diciptakan untuk dirinya sendiri, tapi ia diciptakan untuk suatu tujuan, yaitu agar berguna bagi orang yang memakainya dan membuat senang penciptanya. Saya yakin, Steve Jobs pasti senang dan bangga melihat betapa canggih i-Phone ciptaannya. Namun lebih dari pada itu, beliau pasti lebih senang dan bangga lagi ketika melihat i-Phone ciptaannya telah membantu hidup dan dipakai oleh jutaan orang di seluruh penjuru dunia. Syarat agar i-Phone itu dapat berguna bagi pemakainya: ia harus ‘mati’ terlebih dahulu. Jika ia ‘hidup’ semaunya sendiri, maka orang-orang akan jengkel dibuatnya, misalnya tiba-tiba i-Phone tersebut melompat-lompat kesana kemari lalu menghilang ketika sedang dicari, atau si i-Phone ‘ngambek’ lalu men-shutdown dirinya sendiri karena pemakainya adalah tangan-tangan jorok penuh minyak yang tidak pernah dicuci dengan sabun wangi. Demikian juga, saya juga harus ‘mati’ terhadap segala kepentingan diri sendiri agar saya benar-benar bisa berguna bagi sesama dan menyenangkan Sang Khalik. Tidak ada lagi rasa iri, cemburu, dendam, maupun ambisi yang tersimpan di hati sehingga saya benar-benar bebas untuk ‘dipakai’ oleh Sang Pencipta untuk tujuan dan rencana-Nya kapanpun, di manapun, dan dalam situasi apapun.

Advertisements