Dilema Sekolah (Terlalu) Tinggi

Beberapa hari ini di media sosial sedang ramai dibahas sosok kontroversial, Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019, ibu Susi Pudjiastuti. Yang sangat menarik perhatian adalah latar belakang akademisnya, yang mana beliau ini tidak tamat SMA tetapi punya karir bisnis yang luar biasa, bahkan dinilai lebih spektakuler daripada orang-orang yang bergelar pendidikan lebih tinggi. Ukuran yang dipakai untuk membandingkan adalah pengaruh (influence). Walaupun beliau hanya memiliki ijazah SMP, tapi beliau mampu menciptakan lapangan kerja yang memberi kehidupan bagi orang banyak. Sementara di lain tempat, masih banyak sarjana yang menganggur. Pekerjaan saja tak punya, apalagi pengaruh di masyarakat.

Bagi saya, ini menjadi tamparan yang cukup keras bagi orang-orang yang begitu terobsesi mengejar gelar akademik. Memang, “mengejar gelar akademik” dan “mengejar pendidikan” adalah dua hal yang jauh berbeda. Dua tahun menimba ilmu di Korea, saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara yang sedang menempuh program Master atau Doktoral. Dari beberapa obrolan atau diskusi yang kami lakukan, saya menyadari bahwa ternyata motivasi orang-orang mengejar pendidikan tinggi begitu beragam: ada yang ingin mencari pengalaman tinggal di luar negeri dan belajar lebih mandiri (walaupun sebenarnya tidak terlalu suka apa yang sedang dipelajarinya), ada yang ingin mencari koneksi dan relasi dari negara lain (yang mungkin bisa dijadikan mitra usaha di masa depan), atau ada juga yang ingin sekedar mencari gelar yang lebih tinggi agar kelak ketika bekerja bisa mendapat bayaran yang lebih tinggi (dengan menjadi profesional di perusahaan yang sudah mapan dan terkenal seraya berharap agar ‘dimanjakan’ atau difasilitasi oleh sang bos). Sah-sah saja memang.

Namun, saya curiga (semoga kecurigaan ini salah) dan kuatir (semoga kekuatiran ini tak terjadi) akan adanya motivasi yang, menurut saya, tidak tulus, yaitu: keinginan untuk menciptakan status sosial yang lebih tinggi. Mereka mengejar pendidikan tinggi untuk menciptakan wibawa, agar kelak diterima, dihormati, diakui, dan disegani di masyarakat. Mereka senang kalo dipanggil “Dok” atau “Prof”, mungkin karena kesannya lebih intelektual. Mereka ingin menciptakan rasa aman bagi diri sendiri agar tidak ada orang yang berani mengkritik atau mencela (bahkan di saat mereka salah sekalipun). Reputasi itu penting sekali bagi mereka. Akibatnya, ketika mereka ini menjadi dosen di universitas atau bos di perusahaan, mahasiswa atau karyawannya akan tertekan secara mental karena tidak ada kesempatan untuk mengkritisi dan menyuarakan pendapatnya (yang mungkin saja lebih bijak). Tidak heran, akhirnya kekuasaan para doktor dan profesor (kaum intelektual) ini begitu dominan dan susah dilawan. Jika sudah begitu, maka praktek korupsi rawan terjadi. Dari mana asalnya? Semua berawal dari keinginan untuk menjadi lebih tinggi, lebih baik, lebih terpandang, atau lebih terhormat daripada orang lain yang berlanjut pada keinginan untuk ‘mengunci’ posisi (yang telah mereka raih dengan susah payah) agar orang-orang di bawah mereka tidak punya kesempatan untuk berkembang.

Sekolah terlalu tinggi memang berpotensi membuat orang menjadi pintar, bahkan sangat pintar, dan… cenderung licik. Dilema memang, karena di satu sisi pendidikan tinggi memang telah terbukti memberikan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berguna dalam hidup, seperti nasihat orang tua: “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” yang mengajarkan agar kita tidak pernah berhenti belajar dan tak pernah merasa puas dengan ilmu pengetahuan yang telah kita ketahui. Namun di sisi lain, pendidikan tinggi juga memberi ‘jalan’ bagi orang-orang untuk merasa lebih berilmu dan lebih layak dihormati daripada orang lain yang pendidikannya lebih rendah. Padahal terkadang, orang bergelar doktor atau profesor pun belum tentu bisa menjawab persoalan anak SMP. Bagi para doktor dan profesor semacam ini, gelar akademik ibarat sebuah beban moral, karena masyarakat akan menaruh harapan dan tuntutan yang tinggi pula pada mereka. Di sini jelas terlihat bahwa pendidikan itu seharusnya tidak hanya mencakup kemampuan intelektual saja, tapi juga harus mengasah kecerdasan emosional dan spiritual. Selain melatih head (otak) dan hands (keterampilan), pendidikan juga harus menyentuh heart (hati nurani). Jadi bagaimana, mau sekolah setinggi-tingginya atau yang biasa-biasa saja? Sekolah itu tidak harus di ruang kelas berdinding, tapi bisa di mana saja. Belajar juga tidak harus dari orang yang bergelar tinggi, tapi bisa dari siapa saja.

Menurut saya pribadi, kalo ingin sekolah tinggi, sebaiknya harus paham dulu Tujuan Nasional bangsa Indonesia. Ngomong-ngomong, selain Pancasila, saya juga sangat nge-fans (suka dan kagum) pada Tujuan Nasional bangsa Indonesia. Masih ingat pelajaran PPKn zaman SD dulu? Begini kurang lebih isinya (yang sering diserukan pada saat pembacaan Pembukaan UUD 1945 di upacara hari Senin atau hari kemerdekaan di sekolah): (1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2) Memajukan kesejahteraan umum, (3) Mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (4) Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Tujuan ini seharusnya juga menjadi landasan (jiwa dan ruh) bagi setiap orang yang ingin mengejar pendidikan tinggi. Kejarlah pendidikan setinggi mungkin, namun tetaplah miliki sikap hati yang sederhana.

Seoul, 30 Oktober 2014

Advertisements