Berkah dari Pemilu 2014

Mencermati berbagai berita yang berkembang di media sosial menjelang Pemilu, 9 Juli 2014, ada DUA hal yang menarik perhatian saya:

Pertama, tercermin dari partisipasi agresif masyarakat Indonesia dalam mempromosikan calon presiden jagoan-nya masing-masing, yang mana telah menunjukkan minat dan perhatian yang besar, tidak hanya dari masyarakat yang tinggal di dalam negeri, tapi juga dari mereka yang sedang bekerja atau belajar di luar negeri. Hampir setiap hari kita bisa melihat bagaimana para pendukung dari masing-masing pasangan capres-cawapres mendemonstrasikan kreativitas mereka: ada yang menuangkannya dalam bentuk tulisan atau komentar, ada pula yang mencurahkannya dalam bentuk meme atau ilustrasi, dan ada pula yang menumpahkannya dalam bentuk video klip yang dikemas dalam lagu. Beberapa karya disajikan untuk menginspirasi, namun ada juga yang disuguhkan untuk mengkritisi. Selama hidup, belum pernah saya melihat antusiasme masyarakat yang sedemikian besar dalam sebuah “kontes politik”. Bahkan, gaung perhelatan Pemilu kali ini sepertinya telah meredam gegap-gempita pergelaran kontes sepakbola terbesar sejagat. Mereka yang dulunya apatis terhadap hiruk-pikuk “perebutan kekuasaan” di “panggung sandiwara” kini telah berubah menjadi pro-aktif menyuarakan dukungannya kepada “tim favorit”-nya masing-masing. Driving force alias tenaga penggerak-nya adalah harapan… harapan akan perubahan… yakni perubahan ke arah yang lebih baik… pemerintahan yang bersih, jujur, adil, bermartabat, dan berkedaulatan, agar rakyat hidup makmur, tentram, dan sejahtera.

Kedua, tercermin dari sikap para calon pemimpin bangsa dalam menjalani segala persiapan menjelang pesta demokrasi, yang mana telah menunjukkan sisi “manusiawi” seorang pemimpin, yang selain memiliki kelebihan, ternyata tak juga luput dari kekurangan. Hampir setiap hari kita bisa menyimak bagaimana “kontroversi” yang dibuat masing-masing calon: ada yang ‘kemasan’nya tampak indah walau ‘isi’nya tak seindah ‘kemasan’nya, namun ada juga yang ‘kemasan’nya biasa saja tapi ‘isi’nya justru menyentuh hati. Ibarat tim sepakbola yang bertanding: ada pihak yang sering lebih offensive, sementara pihak yang lain sering lebih defensive. Soal visi dan misi, yang satu lebih memprioritaskan pemanfaatan sumber daya alam, yang dua lebih memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia. Namun, perbedaan yang cukup kontras ini justru menyiratkan betapa kaya-nya keberagaman dan kemajemukan di tanah air beta. Ternyata, tidak hanya alam-nya saja yang beranekaragam, tapi juga manusia-nya, bahkan calon pemimpin-nya. Syukurlah, para calon pemimpin bangsa telah menyadari bahwa keanekaragaman ini bukanlah “perbedaan yang memisahkan atau memecah-belah” melainkan “perbedaan yang menyatukan atau mengharmoniskan” serta bukan hasil reka cipta manusia melainkan anugerah Yang Kuasa. Mereka sepakat bahwa Bhinneka Tunggal Ika sebagai identitas dan pemersatu bangsa sudah final, tidak dapat diganggu gugat. Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, Bhinneka Tunggal Ika adalah Indonesia. Setiap hari, generasi muda bisa belajar dari apa yang dicontohkan para calon pemimpin kita, mulai dari cara berbicara, cara berpikir, cara berinteraksi dengan rakyat, hingga strategi mengelola pemerintahan. Contoh yang baik patut diteladani dan dipuji, yang tidak baik jangan ditiru dan tidak perlu dihakimi, sedangkan yang masih “abu-abu” tidak usah dicaci. Semoga driving force alias tenaga penggerak yang dimiliki para calon pemimpin kita bukanlah ambisi pribadi atau rasa gila hormat dan haus kekuasaan, melainkan ketulusan, kesungguhan, dan kebesaran hati mengabdi dan membaktikan diri pada negeri demi terwujudnya Indonesia yang bernurani dan berjati diri.

Seoul, 23 Juni 2014

Advertisements