Tak Kenal, Tak Sayang

tak-kenal-tak-sayang

“Setiap orang ingin terkenal.”

Setujukah teman-teman dengan pernyataan tersebut? Mungkin ada beberapa orang yang kurang setuju karena faktanya menjadi orang terkenal tidak selalu menyenangkan, seringkali malah justru terbeban (karena harus menampilkan sikap yang baik di depan semua orang alias jaim). Baiklah, sekarang saya ganti pernyataannya:

“Setiap orang ingin dikenal dengan baik.”

Saya yakin banyak orang akan setuju kali ini. Memang benar, setiap orang cenderung ingin dikenal, baik oleh keluarganya sendiri, teman atau sahabat, maupun orang lain yang mungkin baru pertama kali kenal. Ada perbedaan yang besar antara “menjadi terkenal” dan “dikenal dengan baik”. Yang satu sifatnya hanya sementara dan dangkal (hubungan yang hanya di permukaan), sedangkan yang satunya lagi sifatnya lebih tahan lama dan dihasilkan dari hubungan yang dalam.

Sungguh menyenangkan jika orang lain mengenal kita dengan baik, mulai dari hal-hal kecil seperti: apa makanan favorit kita, hobi/kegemaran kita, sampai ke hal-hal yang lebih personal, seperti: apa saja yang membuat kita bersemangat atau menyedihkan kita, apa hasrat atau mimpi kita, bagaimana masa lalu kita, dll. Seringkali ketidaktahuan kita tentang kepribadian seseorang-lah yang menimbulkan kesalahpahaman atau konflik. Banyak orang belum mengenal seseorang dengan baik, tapi sudah terlalu cepat membuat kesimpulan/penilaian (judgement).

Jika kita mengenal seseorang dengan baik, kita akan lebih menghormatinya. Jika kita sudah menaruh respek pada seseorang, kita akan lebih mudah menyayanginya. That’s why, dalam sebuah hubungan antarmanusia, kemampuan untuk mengenal orang lain dengan baik teramat sangat penting. Tidak heran, orang-orang sukses seringkali bukanlah orang-orang ber-IQ tinggi, melainkan orang-orang yang terampil membangun komunikasi.

One secret is unlocked! Sebagai makhluk istimewa ciptaan Tuhan, rasa ingin dikenal ini bukan berasal dari diri manusia sendiri, tetapi inilah “DNA Tuhan” yang sudah ada dalam diri setiap manusia. Sang Pencipta sendiri juga ingin dikenal oleh umat ciptaan-Nya.

Sebab Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah lebih daripada korban-korban bakaran. (Hosea 6:6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

About Philip Wijaya

A lifelong-learner and a story-writer who dreams to be a history-maker.