Menemukan Jalan Kebenaran dari Kisah Pelacur

Pagi itu, saat Yesus sedang mengajar di bait Allah, datanglah sekelompok pemuka agama kepada-Nya membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah. Mereka ingin tahu pendapat Yesus tentang hukuman yang pantas bagi perempuan tersebut, yang mana menurut Taurat (hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan sesamanya di zaman itu) adalah rajam batu. Dalam hati, mereka berharap agar Yesus memberikan jawaban yang blunder mengenai persoalan tersebut (karena mungkin mereka mengira Yesus adalah sosok yang lemah terhadap wanita sehingga Ia akan bersikap ‘longgar’ terhadap hukum Taurat). Namun, bukannya menjawab, Yesus malah membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika para pemuka agama terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Baca kisah selengkapnya di sini).

Kisah ini juga telah diilustrasikan dalam film The Passion of the Christ (2004) berikut ini:

Peristiwa tersebut meski terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu, namun masih relevan di zaman modern sekarang ini. Kejadian serupa berulang ketika sekelompok ‘preman berjubah’ yang mengaku berasal dari kaum religius berusaha ‘membela’ Allah-nya dan menjaga kemurnian ‘ajaran-Nya’. Mereka menyangka dengan menyerang orang-orang yang mereka anggap berbuat maksiat, mereka sedang berbakti pada Yang Maha Esa. Sungguh sebuah ironi besar ketika bakti kepada Sang Pencipta dimanifestasikan dengan cara membinasakan karya ciptaan-Nya yang paling mulia dan dikasihi-Nya. Inikah yang disebut kebenaran… atau jangan-jangan… kesesatan?

Well, sungguh miris memang, agama yang seharusnya bertujuan membawa kedamaian, namun faktanya justru menghasilkan kebencian dan penghakiman. Inilah jebakan agama: orang-orang yang ‘beragama’ seringkali merasa dirinya paling benar, paling suci, dan paling bijak sehingga mereka merasa berada di kasta yang lebih tinggi dan mulia daripada orang-orang lain yang ‘tidak beragama’. Agama yang mengajarkan kasih ternyata justru malah melenyapkan rasa belas kasihan di hati orang-orang yang berusaha mengamalkannya. Bukannya menyelesaikan masalah, agama justru menciptakan masalah-masalah baru: topeng kemunafikan dan arogansi. Inilah bukti sah bahwa agama telah gagal menghasilkan kesalehan moral dan spiritual, agama hanya ‘mempercantik’ apa yang di luar tanpa memperbaiki apa yang sebenarnya jauh lebih penting di dalam hati, dan agama tidak akan pernah membawa keselamatan! Agama adalah hasil penafsiran dan pemahaman manusia (yang terbatas) yang berusaha merumuskan tata cara yang benar mengenai hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta dan hasil ciptaan-Nya (manusia dan makhluk lain serta lingkungan hidup-nya). Wajar, banyak sekali error dalam produk buatan manusia (yang sudah lebih dulu error) ini.

Selagi agama berusaha ‘mendekorasi’ manusia lahiriah, Yesus berbicara sampai ke dalam hati, menyentuh dan mengubahkan manusia batiniah kita. Di sinilah letak perbedaan Yesus dibandingkan tokoh-tokoh agama yang lain. Ia tidak pernah mengajarkan atau menyebut merek agama tertentu. Kristen, sebutan bagi para pengikut Kristus Yesus, bukanlah hasil gagasan-Nya, melainkan sebutan atau julukan yang dialamatkan kepada murid-murid Yesus di zaman dahulu yang begitu radikal, di kota Antiokhia. Yesus datang ke dunia ini tanpa membawa atribut atau embel-embel agama untuk menuntun jalan manusia pada keselamatan, karena Ia sendiri-lah yang sesungguhnya telah menjadi jalan bagi keselamatan manusia. Hanya ada satu Allah yang benar: Allah Sang Pencipta semesta dan manusia, yang telah datang ke dunia dalam rupa manusia, mati disalibkan demi menebus dosa manusia yang dikasihi-Nya, dan telah bangkit untuk menyediakan hidup yang kekal bagi umat manusia yang percaya kepada-Nya. Jalan kepada Allah bukanlah agama atau amal perbuatan baik, melainkan Yesus.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (perkataan Yesus dikutip dari Yohanes 14:6)

2 thoughts on “Menemukan Jalan Kebenaran dari Kisah Pelacur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

About Philip Wijaya

A lifelong-learner and a story-writer who dreams to be a history-maker.