Bhinneka Tunggal Ika dan Indonesia

2 comments

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA), ada satu mata pelajaran yang cukup berkesan, yaitu Pendidikan Moral Pancasila (PMP), yang kemudian berubah nama menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Mengapa berkesan? Karena pada saat itu, kebanyakan murid di kelas kami sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pelajaran tersebut, tapi entah mengapa kebanyakan justru mendapat nilai yang baik, bahkan ada yang nyaris sempurna! Setiap pembagian rapor kenaikan kelas, nilai PPKn hampir selalu berkisar antara 8-9. Bahkan bagi beberapa siswa, mendapat nilai 7 adalah hal yang cukup memalukan. Selain itu, entah mengapa, kami tidak tahu apakah ini kebetulan atau tidak, hampir semua guru PPKn pada zaman kami punya gaya yang nyentrik saat mengajar. Kebanyakan dari mereka juga sangat berwibawa sehingga cukup disegani oleh para siswa. Well, kami tidak tahu apakah hal ini hanya terjadi di sekolah kami atau terjadi juga di mana-mana. Kami juga tidak tahu apakah hal ini hanya terjadi pada zaman kami sekolah dulu, atau juga dialami oleh generasi sekarang. Apakah PPKn masih menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah modern sekarang pun kami juga tidak yakin. 

Satu hal yang kami ingat dari pelajaran PPKn adalah semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Mengapa bisa ingat? Tentu saja karena sang guru mewajibkan para siswa untuk menghafalkannya (selain subjek tentang lima sila dalam Pancasila pastinya). Namun, meskipun tahu dan hafal bunyinya, bagi kami yang masih kecil waktu itu, semboyan tersebut tidak lebih dari sekedar hafalan. Belum terasa maknanya yang begitu dalam. Sekarang, setelah beranjak dewasa, ketika mengingat dan merenungkan kembali tentang Bhinneka Tunggal Ika, kami baru sadar betapa luar biasa makna yang terkandung di dalamnya. Sebelum melangkah lebih jauh, mari kembali mengingat arti dari Bhinneka Tunggal Ika, yang adalah: “Walaupun berbeda-beda, tetapi tetap satu jua” atau dalam bahasa Inggris, “Unity in Diversity”.

Mengingat makna Bhinneka Tunggal Ika membuat kami terkagum-kagum kepada sang pencetus. Tidak diketahui secara pasti siapa, namun menurut sejarah, semboyan ini telah dimulai sejak zaman Wisnuwardhana, pada masa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14, kemudian dirumuskan dalam syair Sutasoma, dalam bahasa Jawa Kuno, karangan Mpu Tantular. Kalimat ini kemudian diangkat menjadi semboyan yang diabadikan dalam lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Garuda Pancasila.

Garuda Pancasila NKRI. Sumber: www.bin.go.id
Garuda Pancasila NKRI. Sumber: www.bin.go.id

Bhinneka Tunggal Ika sangatlah tepat disematkan menjadi semboyan NKRI. Indonesia, yang terdiri dari ribuan pulau dan ratusan suku bangsa, harus bangga memiliki Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan inilah yang menjadi dasar persatuan dan kesatuan bangsa kita. Tidak ada negara manapun di dunia ini yang memiliki kekayaan/keanekaragaman budaya, bahasa, dan sumber daya alam sebesar yang ada di Indonesia.

Secara geografis, Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang saling terpisah oleh laut. Tak hanya itu, Indonesia juga merupakan negara di dunia yang daerahnya paling banyak dilalui garis khatulistiwa. Kondisi ini menghadirkan manfaat/keuntungan sekaligus tantangan (yang besar).

Keuntungan:

  • Keadaan pulau-pulau yang terpisah satu sama lain menyebabkan Indonesia begitu kaya akan budaya. Setiap daerah memiliki keunikan: bahasa (dialek), pakaian, bangunan, hingga makanan khas. Hal ini sangat wajar dan masuk akal karena penduduk di pulau yang berbeda tentu akan melahirkan pola pikir dan kebudayaan yang berbeda pula.
  • Dengan dilalui garis khatulistiwa, artinya posisi Indonesia di bumi ini adalah sentral alias di tengah-tengah. Hal ini berarti bahwa iklim di Indonesia secara umum adalah moderat (tidak ekstrem) sehingga berpengaruh pada kesuburan tanah dan area di sekitarnya. Tidak heran, kekayaan alam di Indonesia begitu luar biasa: tanahnya kaya akan tambang dan lautnya kaya akan ikan.

Tantangan:

  • Keterpisahan satu pulau dengan yang lainnya menyebabkan secara alami banyak sekali perbedaan/keberagaman yang muncul. Terkadang, perbedaan budaya bisa menyebabkan perbedaan kepentingan sehingga rawan terjadi perselisihan. Hal ini menjadi tantangan agar kita semua bersama-sama menjaga persatuan di tengah banyaknya perbedaan. Kita juga perlu memahami betapa berat perjuangan Pemerintah Indonesia untuk menjaga stabilitas dan me-manage semua perbedaan yang ada (yang sudah terjadi/lahir secara alami).
  • Dengan berada di posisi yang sangat strategis, yaitu di tengah-tengah bumi dan diapit oleh negara-negara lain, kawasan Indonesia jadi sangat mudah dilalui oleh negara lain dari berbagai penjuru, sehingga berbagai budaya asing dapat dengan mudah masuk. Hal ini menjadi tantangan agar kita waspada dan selektif terhadap pengaruh negatif dari budaya-budaya yang mungkin tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian Indonesia.

Refleksi: 

Indonesia adalah miniatur dunia. Posisi yang strategis, kekayaan alam yang berlimpah, manusia yang ramah seharusnya menjadikan Indonesia sebuah negara yang terhormat dan terpandang di mata bangsa lain. Segala perbedaan, baik budaya maupun geografis, justru menjadikan Indonesia negara yang kaya raya. Ini semua adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan usaha/pekerjaan manusia yang menciptakannya. Jadi sudah selayaknya kita bangga dan bersyukur sebagai bangsa Indonesia dengan menerima, menikmati, dan menghormati setiap perbedaan yang ada serta menjadikan perbedaan-perbedaan tersebut sebagai batu loncatan, bukan batu sandungan.

Mari berhenti memperkatakan yang buruk tentang Indonesia. Mari berhenti mengutuki Pemerintah Indonesia, karena sesungguhnya tidaklah mudah bagi mereka untuk mengelola bangsa yang plural dan majemuk ini. Menjaga keutuhan dan kelestarian bangsa adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah saja. Persatuan dan kesatuan bangsa adalah mimpi kita bersama, seluruh manusia Indonesia.

Berikut adalah galeri foto tentang keindahan Indonesia (diadopsi dari berbagai sumber):

Danau Toba, Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Danau Toba, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Sumber: worldfortravel.com
Gunung Bromo, Jawa Timur.
Gunung Bromo, Jawa Timur. Sumber:  apcc.pro
Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Sumber: sfubiz.ca/aiesec
Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Sumber: imagestour.blogspot.kr
Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.
Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Sumber: apcc.pro
Pantai Kuta, Bali.
Pantai Kuta, Bali. Sumber: apcc.pro
Pulau Komodo, Kepulauan Nusa Tenggara.
Pulau Komodo, Kepulauan Nusa Tenggara. Sumber: apcc.pro
Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Kawah Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sumber: himpalaunas.com
Raja Ampat, Papua.
Raja Ampat, Papua. Sumber: apcc.pro

Artikel ini ditulis di Seoul, 9-12 Agustus 2013 dan dipublikasikan on-line pada 17 Agustus 2013 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) yang ke-68. 

2 comments on “Bhinneka Tunggal Ika dan Indonesia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s