Ujung-Ujungnya Cinta

Bertepatan di bulan penuh kasih sayang ini, izinkan saya berbagi opini (kalau tidak bisa disebut “uneg-uneg”) mengenai sebuah topik yang selalu nyambung dengan siapapun, kapanpun, dan di manapun, dari generasi ke generasi; apalagi kalau bukan: CINTA.

Banyak orang berpendapat bahwa hidup dan bekerja di dunia ini tujuan akhirnya adalah uang. Kita sering mendengar istilah “UUD” (Ujung-Ujungnya Duit). Saya memiliki pendapat lain. Menurut saya, orang-orang hidup, bekerja, dan berkarya di dunia ini ujung-ujungnya adalah CINTA. Posisi cinta masih lebih ‘ujung’ dibandingkan dengan uang.

Coba renungkan sejenak. Apa jenis pekerjaan Saudara saat ini? Guru, dosen, ilmuwan, pengusaha, karyawan, artis/seniman, atlet/olahragawan, nelayan, petani, atau buruh sekalipun semuanya bekerja demi CINTA. Dan ada 2 kemungkinannya: “memberi cinta” atau “menerima cinta”.

Love is the greatest of all.

Love is the greatest of all.

Beberapa orang berusaha keras dalam pekerjaannya demi memperoleh apresiasi atau pengakuan dari orang-orang di sekitarnya. Dalam hal ini, mereka sedang bekerja untuk “menerima cinta”. Di sisi lain, ada orang-orang yang berjerih lelah bekerja demi menghidupi istri, anak-anak, dan keluarga yang dicintainya. Dalam hal ini, mereka sedang bekerja untuk “memberi cinta”.

Namun, tidak semua kisah cinta selalu berkonotasi positif. Ada juga cinta yang diselewengkan (abused) sehingga energinya menjadi negatif. Dalam beberapa kasus yang ekstrem, ada orang yang bahkan rela mati (seperti dalam kasus bom bunuh diri) demi ‘cinta’nya kepada ideologi yang dianutnya atau bahkan melakukan bunuh diri karena dikhianati oleh orang yang dicintainya. Selain itu, ada juga orang-orang yang tega melakukan korupsi sehingga melukai hati orang-orang yang dipimpinnya. Sebenarnya bukan uang yang membuat dia melakukan hal tersebut, melainkan ‘cinta’nya kepada diri sendiri. Mereka mengutamakan kepentingan dan kenyamanan diri sendiri. Mereka mencintai diri sendiri lebih daripada orang lain. Cinta pada diri sendiri telah membutakan mata dan menulikan telinga batin mereka.

Well, meskipun seseorang berlimpah-limpah hartanya, namun jika tidak ada CINTA, apalah gunanya. Bahkan memiliki banyak uang tidak menjamin kebahagiaan. Money can’t buy me love. Ada orang-orang yang tetap merasa kesepian dan kosong walaupun memiliki banyak uang. Namun, ada orang-orang yang tetap bisa bergembira dan menikmati hidup walaupun dalam kondisi pas-pasan, karena mereka mengisi hari-hari dalam hidupnya dengan “memberi cinta” atau “menerima cinta”.

love vs money

All we need is love, not money

So, apapun kondisi kita sekarang, no matter how much money you havehow high your position is in work, atau how popular you are, tetap putuskan untuk berbahagia dengan cara menjalani kehidupan ini dengan penuh CINTA. 

Cintai sesama, cintai alam sekitar, dan cintai Penciptamu.

Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas. (King Solomon)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

About Philip Wijaya

A lifelong-learner and a story-writer who dreams to be a history-maker.