Serba Salah dalam Komunikasi

Komunikasi adalah kunci untuk keberhasilan hubungan antarmanusia. Dari semua makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa, hanya manusia yang diberi kemampuan untuk berbicara, artinya ada satu amanat penting yang diembankan kepada manusia lewat kemampuannya mengolah kata. Kualitas hidup manusia amat ditentukan dari bagaimana cara ia menggunakan kemampuan berbicara ini (lihat ulasannya di Rahasia di Balik Lidah Manusia).

Akan tetapi, komunikasi tidak hanya berkaitan dengan aspek verbal (berbicara/berbahasa) saja, ada juga aspek non-verbal (misalnya: bahasa tubuh atau gesture, kontak batin, dan lain sejenisnya yang tidak menggunakan ucapan bahasa). Uniknya, seringkali apa yang tak terucapkan justru lebih penting daripada apa yang terucapkan. Jika kita mampu memahami orang lain tanpa ia harus mengucapkannya, berarti kita telah berhasil berkomunikasi dengan baik secara non-verbal. Hal ini penting dalam hubungan antarmanusia karena terkadang orang tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan dengan benar lewat kata-kata, ia hanya bisa menunjukkan ekspresinya lewat bahasa tubuh, entah dari tatapan matanya, cara berdirinya, cara berbicaranya, senyumannya, dan lain-lain, sehingga kita perlu belajar juga untuk peka memahami apa yang tidak terucapkan.

Dalam komunikasi selalu ada dua pihak, yaitu: pembicara (penanya) dan pendengar. Sebuah komunikasi yang sehat seharusnya aktif melibatkan keduanya, baik penanya maupun pendengar. Sayangnya, kenyataannya seringkali hanya ada satu pihak yang dominan, yaitu si pembicara, sementara yang lainnya hanya bisa mendengarkan tanpa diberi kesempatan bertanya atau berbicara. Dari sinilah saya ingin mengungkapkan pandangan saya mengenai berbagai “serba salah” yang terjadi dalam komunikasi berdasarkan pengalaman pribadi 🙂

Ketika masih di zaman mahasiswa dulu, saya adalah tipe orang yang suka sekali bercerita. Namun, rupanya waktu itu saya seringkali hanya menceritakan tentang diri saya sendiri tanpa peduli apa yang sedang terjadi pada orang lain. Saya begitu asyik membagikan kisah hidup (termasuk rahasia-rahasia pribadi) tanpa harus kuatir tentang apa penilaian orang terhadap saya, dan saya pun jarang bertanya balik: “Bagaimana dengan Anda?” Akibatnya, tidak semua orang merasa nyaman dengan cerita saya karena bagi mereka saya hanya memikirkan diri sendiri (tanpa memberi kesempatan mereka untuk bercerita balik).

Sejak saat itu, setelah saya sadar akan kecerobohan tersebut, saya berusaha untuk lebih peduli dan menjadi pendengar yang baik dengan cara bertanya kepada lawan bicara: “Bagaimana dengan Anda?” Prinsip yang saya ketahui dari orang-orang sukses yang sudah lebih berpengalaman adalah: “Pembicara yang baik adalah juga pendengar yang baik.” Jika kita tidak benar-benar mendengar dan menaruh perhatian pada cerita orang lain, bagaimana kita bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan yang baik dan berkualitas pada orang tersebut?

Namun sayang, ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Ketika saya mulai banyak bertanya dan berusaha menaruh perhatian pada orang lain, ternyata pun tidak semua orang merasa nyaman! Ada yang merasa: “Ngapain sih lu nanya-nanya? KEPO amat” Sekedar informasi, belakangan saya baru tahu bahwa KEPO itu adalah akronim dari Knowing Every Particular Object. Jadi intinya adalah suatu sikap yang ingin mengetahui sesuatu hingga terperinci, biasanya didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, walau terkadang hal yang ingin diketahui sebenarnya tidak terlalu penting juga bagi si penanya. Salah lagi. Jadi, saya sudah mengalami kesalahan dua kali. Serba salah memang. Lalu?

Dari kejadian ini saya berusaha mengambil hikmahnya, bahwa komunikasi itu memang adalah sebuah seni. Ada banyak hal yang random dan tidak semuanya selalu sejalan dengan asumsi kita sehingga hal ini semakin menantang saya untuk terus belajar dan belajar lagi tentang komunikasi. Saya bersyukur pernah ada di posisi yang salah, baik sebagai pembicara, penanya, maupun pendengar. Hikmah yang bisa saya petik adalah bahwa ketulusan adalah kunci keberhasilan dalam sebuah komunikasi. Apapun posisi kita, entah pembicara, penanya, ataupun pendengar, yang terpenting adalah: tulus!

  • Jadilah pembicara yang tulus, yang benar-benar ingin berbagi kisah dengan orang lain, agar orang yang mendengarnya mendapatkan manfaat dari kisah kita yang inspiratif serta menghargai kejujuran kita yang telah bersedia berbagi cerita pribadi (yang sesungguhnya sangat bernilai sehingga sejatinya tidak semua orang berhak mengetahuinya) dan bukan malah merasa digurui, dihakimi, ataupun dipameri.
  • Jadilah penanya yang tulus, yang benar-benar ingin tahu tentang situasi, kondisi, atau pendapat orang lain, agar orang yang menjawabnya merasa antusias dalam memberikan jawaban-jawaban dari pertanyaan kita dan bukan malah merasa diuji, dicobai, ataupun diintimidasi.
  • Jadilah pendengar yang tulus, yang benar-benar ingin mendengar tentang kisah orang lain, agar orang yang sedang bercerita merasakan bahwa masih ada orang-orang yang bersedia meluangkan waktu dan tenaganya serta peduli pada dirinya dan bukan malah merasa diabaikan, direndahkan, atau dicampakkan.

Komunikasi yang sehat adalah kebutuhan setiap orang untuk hidup sehat dan bahagia. Manusia bisa bertahan hidup karena adanya hubungan, dan hubungan tersebut akan berhasil jika didasari oleh komunikasi yang sehat.

Terima kasih sudah membaca (baca: mendengar) cerita ini. Mohon maaf jika di masa lalu, masa sekarang, maupun masa depan, saya telah, sedang, dan akan (lagi) menjadi pembicara, penanya, ataupun pendengar yang salah. Sampai sekarang pun saya masih harus terus banyak belajar. Mari jangan bosan dan lelah untuk belajar. Tetaplah bercerita, teruskanlah bertanya, dan tabahlah mendengar.

Semoga cerita ini bermanfaat.

Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. (Amsal 10:19)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

About Philip Wijaya

A lifelong-learner and a story-writer who dreams to be a history-maker.