Lima Bahasa Kasih

Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah komunikasi. Saat berbicara, kita perlu menggunakan bahasa yang dimengerti oleh lawan bicara kita supaya komunikasi berlangsung lebih efektif. Jika kita ingin berbicara dengan orang Indonesia, maka bahasa yang paling mudah dipahami tentu saja adalah bahasa Indonesia. Sama halnya jika lawan bicara kita adalah orang Inggris, maka pembicaraan paling nyaman dilakukan dalam bahasa Inggris. Demikianlah seterusnya, demi kelancaran komunikasi, bahasa yang kita pergunakan sebaiknya disesuaikan dengan latar belakang lawan bicara kita.

Ternyata bahasa tidak hanya melulu soal kata-kata, ejaan, struktur, atau pola kalimat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga ‘berbicara’ dalam bahasa kasih. Bahasa ini tidak kalah pentingnya dengan bahasa normal yang kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Kemampuan memahami bahasa orang lain akan menghindarkan kita dari terjadinya kesalahpahaman. Demikian juga, jika kita paham bahasa kasih orang lain, maka kita tidak perlu ragu atau bingung tentang bagaimana menyampaikan atau mengkomunikasikan kasih secara tepat. Yang menarik, setiap orang punya cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kasih. Menurut Dr. Gary Chapman, ada lima jenis bahasa kasih (dikenal dengan The Five Love Languages):

1. Kata-kata penguatan (Words of Affirmation)

Bahasa ini digunakan untuk menguatkan atau memotivasi orang lain. Orang-orang yang mahir berbicara dalam bahasa ini suka membangun lewat kata-kata yang positif dan penuh semangat. Mereka murah hati dalam memberikan pujian (yang tulus tentunya). Sebisa mungkin mereka berusaha untuk tidak mencela atau menghina orang lain. Namun, orang-orang ini juga lah yang paling rentan terhadap kata-kata yang mematahkan semangat.

2. Tindakan melayani (Acts of Service)

Orang-orang dengan tipe bahasa ini punya prinsip: “Tindakan nyata selalu lebih baik daripada kata-kata belaka” atau dalam istilah aslinya: “Action speaks louder than words”. Kadang-kadang mereka tidak banyak bicara, yang penting bekerja. Mereka adalah tipe orang yang murah hati dalam memberikan pertolongan dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Ketika melihat orang lain sedang kesusahan membawa barang, misalnya, orang-orang ini akan segera membantu dengan senang hati tanpa diminta atau disuruh.

3. Pemberian hadiah (Receiving Gifts)

Beberapa orang mengekspresikan kasih dengan cara memberi hadiah, misalnya pada momen-momen spesial, seperti ulang tahun atau perayaan kelulusan, dsb. Biasanya orang-orang dengan tipe ini juga akan lebih merasa dicintai jika orang lain memberi mereka hadiah. Terkadang mereka tidak banyak pikir mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli barang (yang cukup mewah tentunya) sebagai hadiah bagi orang yang dicintainya.

4. Waktu yang berkualitas (Quality Time)

Bagi orang-orang dengan tipe bahasa ini, hal paling penting yang dapat mereka berikan adalah perhatian penuh (undivided attention). Mereka senang meluangkan waktu bersama orang-orang yang dicintai, untuk mendengar dengan tulus, serius, dan fokus tentang kisah hidup mereka. Jelas sekali bahwa orang-orang ini adalah pendengar yang baik, cocok dijadikan partner bagi mereka yang suka curhat 🙂

5. Sentuhan fisik (Physical Touch)

Bahasa ini dikuasai oleh orang-orang yang senang memberikan sentuhan fisik kepada lawan bicara mereka. Bagi mereka, sentuhan fisik dapat berbicara lebih ‘dalam’. Tentu saja yang dimaksud sentuhan fisik di sini adalah sentuhan yang sopan dan tepat pada waktunya. Terkadang saat seorang wanita menangis, yang mereka perlukan hanyalah sebuah pelukan tanpa kata-kata nasihat atau solusi. Saat kita masih kanak-kanak, seringkali kita merasa nyaman dan damai ketika orang tua memegang kepala dan mengusap-usap rambut kita, sebagai tanda kasih sayang dan penerimaan mereka.

The 5 Love Languages, by Dr. Gary Chapman.

The 5 Love Languages, by Dr. Gary Chapman.

Inilah yang dapat saya ceritakan dari pengalaman merenung tentang “Lima Bahasa Kasih”. Menurut saya, kemampuan bahasa ini sangat penting karena akan membantu kita mengerti bagaimana cara memperlakukan orang lain (dengan tepat sasaran) sesuai bahasa yang mereka miliki. Tentu saja jika kita mampu menguasai kelima-nya, akan sangat menguntungkan karena hal tersebut akan membantu kita memahami orang lain dengan lebih baik. Sama halnya jika kita menguasai lima bahasa, maka kita akan mampu berkomunikasi dengan orang-orang dari lima negara dan memahami mereka lebih baik (at least lebih baik daripada orang-orang yang sama sekali tidak mengerti bahasa mereka).

So, kalo teman-teman penasaran dan punya pertanyaan tentang:

  1. Bahasa kasih apa yang sekarang ini paling dikuasai, atau
  2. Siapa pencetus asli konsep “Lima Bahasa Kasih” ini, yaitu Dr. Gary Chapman, dan ingin mengenal beliau lebih dalam,

Silakan luangkan waktu 5 menit untuk mengisi kuisioner yang ada di The 5 Love Languages!

Selamat menikmati. 🙂

2 thoughts on “Lima Bahasa Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

About Philip Wijaya

A lifelong-learner and a story-writer who dreams to be a history-maker.