First Blog: First Story from South Korea

Masih dalam suasana tahun baru 2013. Senang sekali akhirnya berhasil membuat blog pribadi di wordpress ini sebagai tempat untuk berbagi ide, opini, pengalaman, maupun kreativitas. Intinya adalah rekreasi batin. Banyak cerita di 2012, tahun yang bersejarah dalam kehidupan saya. Tahun yang menandai terwujudnya impian untuk dapat menimba ilmu di luar negeri, sekaligus menjadi tahun pertama hidup di negara empat musim, menyaksikan indahnya dan merasakan dinginnya salju secara langsung.

Tak pernah terpikirkan sebelumnya akan belajar di Korea Selatan, sebuah negara yang sedang naik daun dan banyak mendapat perhatian dunia dalam beberapa tahun terakhir lewat budayanya, terutama musik dan film, yang telah ‘membius’ banyak orang di seluruh dunia. Siapa yang tidak kenal Gangnam Style dan K-Pop? Cukup menyebutkan dua nama itu, orang langsung bisa membayangkan Korea. Belum lagi jika membicarakan produk-produk elektronik dan telekomunikasi yang sangat terkenal di kalangan masyarakat dunia yang diproduksi oleh dua perusahaan raksasa Korea Selatan, Samsung Electronics dan LG Electronics.

Pengaruh negara Korea terhadap masyarakat dunia tidak hanya terjadi dalam bidang kesenian, kebudayaan, dan telekomunikasi, tetapi juga bahkan dalam bidang kepemimpinan dan pemerintahan. Jim Yong Kim (Presiden Bank Dunia), Ban Ki Moon (Sekretaris Jendral PBB), dan David Yonggi Cho (Pendiri dan Pemimpin Yoido Full Gospel Church, gereja dengan jumlah jemaat terbesar di dunia) adalah nama-nama yang pengaruhnya sangat besar dan mereka semua adalah orang Korea.

Korea Selatan, negara ‘kecil’ di Asia Timur, yang luas daerahnya masih lebih kecil daripada pulau Jawa (dan kira-kira 20 kali lebih kecil daripada Indonesia), telah berkembang pesat dari sebuah negara miskin menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asia, dalam waktu kurang dari 40 tahun, sejak terjadinya Perang Korea tahun 1950. Menurut salah seorang profesor di Korea Institute of Science and Technology (KIST), kunci keberhasilan mereka adalah kerja keras. Berbeda dengan Indonesia yang dianugerahi kekayaan alam yang sangat melimpah dan iklim yang relatif baik sepanjang tahun (karena posisi Indonesia di daerah khatulistiwa), Korea Selatan tidak demikian. Bahkan negara ini konon tidak memiliki setetes pun gas atau minyak, sehingga mereka mengandalkan nuklir untuk memenuhi kebutuhan energinya. Iklim di Korea tidak selalu mendukung aktivitas kerja sepanjang tahun, karena adanya musim dingin yang seringkali ekstrem. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi masyarakat mereka selain bekerja keras untuk dapat bertahan hidup.

Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk belajar di sebuah negara yang sedang populer ini, dengan etos kerja yang sangat tinggi. Namun di sisi lain, saya juga harus bertanggungjawab terhadap kepercayaan yang sudah dianugerahkan ini. Menjadi kaya, itulah harapan saya. Kaya akan pengalaman dan pelajaran hidup yang akan menjadikan saya lebih dewasa dan bijaksana sebagai manusia.

In front of KIST campus main building.

Keep dreaming – In front of Korea Institute of Science and Technology (KIST) campus main building.

Hari demi hari berlalu, waktu bergerak begitu cepat, dan tanpa terasa tahun 2012 telah terlewati. Saat melihat kembali apa yang sudah terjadi, saya tak habis-habisnya berterimakasih atas kebaikanNya. Semua adalah karena anugerahNya. Bukan karena saya layak, hebat, atau mampu.

Saya sangat bahagia mendapat kesempatan berteman dengan orang-orang dari negara lain, seperti Amerika Serikat, Bangladesh, Cina, India, Iran, Jerman, Korea Selatan, Meksiko, Mesir, Mongolia, Pakistan, Ukraina, dan Vietnam. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya bisa menjadi bagian langsung dari masyarakat internasional. Merupakan sebuah kehormatan bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang budaya dan bahasa yang sama sekali berbeda.

My friends from Ukraine (middle) and India (right)

My friends from Ukraine (middle) and India (right).

Pengalaman berkomunikasi dengan orang Korea sungguh seru dan menyenangkan. Meski saya baru menyadari bahwa ternyata tidak banyak penduduk lokal yang fasih berbahasa Inggris, namun saya tetap menikmati masa-masa percakapan dengan mereka. Pertama kali menggunakan keyboard berbahasa Korea di komputer serta mobile phone untuk berkomunikasi dengan native Korea sungguh merupakan pengalaman yang menyenangkan, terutama saat chatting dengan guru bahasa Korea yang baik hati 🙂

Together with teacher (선생님) and classmates in the last Korean class of first semester.

Together with teacher (선생님) and classmates in the last Korean language class of first semester study in KIST.

Keberadaan orang-orang Indonesia di kampus dan asrama KIST memberikan suasana homy bagi saya. Kegiatan memasak bersama, karaoke bersama, jalan-jalan bersama, dan fotografi bersama telah menjadi rutinitas hampir di setiap akhir pekan selama tahun 2012 yang lalu. Sejak September hingga Desember, kami mendapat kesempatan berkunjung ke beberapa objek wisata, antara lain Chuncheon, Everland, Yongdusan Park, Haeundae Beach, dan The Garden of Morning Calm. Saya bangga dipertemukan dengan mereka, teman-teman yang luar biasa. Satu harapan saya: “kebersamaan ini janganlah cepat berlalu.”

Playing canoe with friends at Chuncheon

Playing canoe with friends at Chuncheon.

Spending holiday time with Indonesia friends in Everland, the largest theme park in South Korea.

Spending holiday time with Indonesian friends in Everland, the largest theme park in South Korea.

Winter weekend with dormitory friends at The Garden of Morning Calm

Winter weekend with dormitory friends at The Garden of Morning Calm.

trazy.com

About Philip Wijaya

A lifelong-learner and a story-writer who dreams to be a history-maker.