Friends vs Fans

Ketika saya masih remaja, saya membayangkan sepertinya punya banyak teman itu sangatĀ menyenangkan. Saat bepergian ke mana-mana selalu ada orang-orang berjalan di kanan dan kiri saya. Kelihatannya keren dan gaul. Belum lagi jika hampir di setiap tempat selalu ada orang yang menyapa atau saya sapa. Bangga rasanya. Merasa diri populer. Seolah-olah tidak ada orang yang tak kenal dengan saya. Seolah-olah saya merasa sudah pandai membangun hubungan, sehingga semua orang mengenal saya. DasarĀ Sanguinis! Saya sadar, memang inilah salah satu sisi kehidupan sekaligus ‘kesombongan’ orang bertemperamenĀ Sanguinis,Ā yang selalu ingin menjadi perhatian publik.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya kini menyadari bahwa ‘jumlah’ bukan yang utama. Saya kini lebih tertarik dengan kualitas hubungan. Bagi saya sekarang, lebih menyenangkan memiliki teman, walaupun tidak banyak, tapi hubungannya dekat dengan kita. Teman seperti apa? Teman yang mengerti kelebihan dan kekurangan kita. Teman yang pernah melihat tawa dan tangis kita. Teman yang memuji di saat kita berbuat benar, dan berani menegur di saat kita berbuat salah. Teman yang menjadi dirinya sendiri bagi kita, dan bersamanya kita pun bisa menjadi diri kita yang sebenarnya. Teman yang menerima kita apa adanya, baik di saat kita kuat maupun lemah.

Have a good friendship, not fan-ship.

Have a good friendship, not fan-ship.

Orang-orang datang dan pergi dalam hidup kita. Semuanya meninggalkan kesan, dari yang biasa saja hingga yang mendalam. Ada kesan yang positif, negatif, atau netral. Saya percaya, setiap orang dari lubuk hati yang paling dalam merindukan, paling tidak seorang teman sejati.Ā But…Ā untuk menemukan SATU saja teman sejati, ternyata tidak mudah. Banyak sekali cerita-cerita sedih tentang kebohongan, pengkhianatan, atau harapan palsu yang terjadi dalam sebuah hubungan. Beberapa orang yang mengalaminya kemudian menjadi terluka, pahit, dan tidak mudah lagi percaya orang lain. Mereka memilih menjalani hidup sendiri dan menjauh dari keramaian, tidak tertarik dengan kehidupan orang lain, dan tidak ingin privasinya sendiri diganggu. Ketika hati sudah menjadi dingin, tidak mudah untuk menghangatkannya kembali, meski oleh berjuta-juta pujian atau tindakan kasih.

Menurut saya, para selebriti atauĀ public figure adalah orang-orang yang rentan sekali mengalami hal-hal ini. Saat sedang terkenal dan menikmati masa kejayaan, banyak orang datang dan mengaku sebagai teman mereka. Namun, cerita tiba-tiba berubah drastis di saat masa kejayaan mereka sudah lewat. Orang-orang yang dulu mengaku sebagai teman tiba-tiba pergi menghilang begitu saja. Tidak heran banyak sekali cerita sedih tentang selebriti yang putus asa menjalani hidup, mencari pelarian ke obat-obatan dan kenikmatan dunia yang sementara untuk mengisi kekosongan hatinya, bahkan tidak sedikit yang mengakhiri hidupnya dengan tragis. Meskipun para selebriti ini punya segudang fans, mereka tetap frustasi, kosong, dan tidak merasakan kebahagiaan sepenuhnya.Ā Inilah yang membedakanĀ friends dengan fans.Ā Teman sejati selalu ada di samping kita, di segala musim, baik dingin maupun panas, dan di segala tempat, baik tinggi maupun rendah.

So, jika saat ini ada orang-orang yang menyayangi kita, tidak peduli berapa pun jumlahnya, bahkan jika hanya ada SATU saja, bersyukurlah! Hargai setiap perhatian tulus yang diberikan oleh orang-orang di sekeliling kita. Mereka adalah anugerah terindah yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita.

Jika saya tidak bisa menemukan seorang teman sejati, saya masih bisa menjadi seorang teman sejati.

Advertisements