Debu, Dosa, dan Cinta

Debu ada di mana-mana. Setiap hari kita bisa menemukannya — di rumah, di mobil, di mesin cuci, di kamar mandi, dsb. — bahkan di tempat yang kelihatannya bersih sekalipun.

Tak peduli seberapa sering kita membersihkan rumah, perabot, atau kendaraan kita, cepat atau lambat mereka akan kembali berdebu.

Debu ibarat dosa. Tak peduli seberapa rajin kita berbuat baik, beribadah, dan berusaha ‘membersihkan’ diri ini, tak perlu menunggu lama untuk dosa kembali ‘mengotori’ pikiran dan jiwa kita.

Konon, manusia diciptakan dari debu tanah. Jika bahan dasarnya adalah debu, sepertinya wajar memang apabila dosa melekat dalam diri setiap insan.

Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Ini adalah akibat dosa di dalam dirinya. Seringkali, kesalahan yang kita perbuat bukan karena kita sengaja ingin melakukannya, tetapi kesalahan-kesalahan tersebut menjadi bukti bahwa memang dosa ada dalam diri kita.

Hal ini dinyatakan oleh Rasul Paulus dalam surat Roma 7:19-20.

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.

Roma 7:19-20

Jika seseorang berkata bahwa ia tidak berdosa, maka ia adalah pendusta. Sama halnya jika kita berkata bahwa tidak ada debu dalam rumah kita, maka kita adalah pendusta.

Lalu pertanyaannya sekarang, mengapa Sang Pencipta menciptakan manusia dari debu? Apakah Ia sengaja menciptakan manusia untuk kemudian berada dalam keadaan berdosa? Setidaknya, mengapa Ia membiarkan manusia jatuh ke dalam dosa?

Bagi saya, ini adalah misteri Ilahi. Kita mungkin hanya bisa mencoba menebak jawabannya, tetapi jawaban sejatinya mungkin tidak akan terkuak di dunia yang kita hidupi sekarang. Saya percaya ini adalah kedaulatan Sang Pencipta.

Kedaulatan bisa diartikan sebagai “kebebasan untuk menentukan atau bertindak secara semena-mena karena kekuasaan tertinggi yang dimiliki.” Jadi secara sederhana, Sang Pencipta adalah Yang Maha Kuasa, dengan demikian Ia bebas menentukan apapun yang Ia ingin lakukan atau tidak ingin lakukan, tanpa ada siapapun yang bisa mengganggu gugat keputusan-Nya.

Hal inilah yang seringkali menyebabkan tensi (ketegangan) antara manusia dengan Sang Pencipta.

Sebagai manusia, mungkin kita pernah protes kepada-Nya: “Mengapa Engkau tidak membolehkan aku bertindak semena-mena sesuka hatiku, padahal Engkau sendiri bertindak semena-mena sesuka hati-Mu?”

Seolah-olah ada standar ganda.

Namun ingat, kita hanya debu, sementara Ia Maha Kuasa.

Setiap nafas kita berasal dari-Nya. Manusia tidak mungkin menang melawan Pencipta-nya.

Satu hal yang harus kita ingat, bahwa Sang Pencipta itu adalah cinta kasih.

Walaupun kita berdosa, Sang Pencipta tetap mencintai kita.

Kekudusan-Nya tidak menjadi penghalang untuk memaafkan segala pelanggaran kita.

Bahkan, Ia masih mau memakai hidup kita yang tidak sempurna ini untuk menjadi alat kemuliaan-Nya, menjadi berkat bagi sesama.

Sama seperti tuan rumah yang baik tidak pernah lelah membersihkan rumahnya dari debu-debu kotor setiap hari, demikian juga Sang Pencipta tidak pernah lelah membersihkan dosa-dosa yang mengotori hati kita, kapan pun kita mengizinkan-Nya, yaitu jika kita menyerahkan hati ini menjadi rumah-Nya.

Berbahagialah orang yang dimaafkan kesalahan-kesalahannya. Berbahagialah orang yang dibebaskan hutang-hutangnya.

Kita semua pernah mencuri — setidaknya mencuri waktu.

Kita semua pernah menipu — setidaknya menipu diri sendiri.

Kita semua pernah membunuh — setidaknya membunuh harapan atau impian sendiri.

Capek? Frustrasi? Ingat debu.

Maaf, ingatlah Sang Pencipta.

Ada yang begitu mencintaimu apa adanya, dan kasih-Nya tak berubah. Bahkan di saat-saat yang paling hancur dalam hidupmu.

Jika engkau masih bangun esok hari, ingatlah Dia yang setia mencintaimu.

Jika matahari masih bersinar dan memberi kehangatan bagimu, ingatlah kasih-Nya yang menghangatkan jiwamu.

Jika alam semesta masih membangkitkan kekaguman di hatimu, ingatlah cinta-Nya yang sungguh ajaib bagimu.

Keajaiban cinta adalah cinta yang diberikan secara tulus tanpa pamrih kepada seseorang yang tidak layak menerimanya. Tidak berhenti sampai di situ, keajaiban cinta akan mengubahkan hidup orang tersebut dan memuliakannya.

Kesimpulannya, mungkin salah satu alasan mengapa kita manusia diciptakan dari debu adalah supaya kita bisa sungguh-sungguh mengalami kasih sayang-Nya.

Alasan-alasan lainnya kita tanyakan kelak secara langsung pada Sang Pencipta di kemudian hari, di waktu yang akan datang, saat kita tersenyum melihat wajah-Nya.

Sebagai penutup, mari saya ajak pembaca untuk mengingat pesan pengharapan berikut ini, dan menyimpannya dalam hati.

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

Roma 3:23-24
Photo credit: iStock by Getty Images by Patrick Lienin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s